Presiden China Xi Jinping mengajak Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunjungi situs bersejarah Kuil Langit atau Temple of Heaven di Beijing pada Kamis (14/5/2026). Pertemuan di lokasi sakral tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan Trump untuk membahas isu ekonomi serta situasi Selat Hormuz.
Kunjungan kenegaraan ini merupakan momen kembalinya Donald Trump ke China setelah terakhir kali menginjakkan kaki di negara tersebut pada tahun 2017. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Travel melalui BBC, kedua pemimpin negara tersebut mengadakan diskusi mendalam selama lebih dari dua jam di Balai Besar Rakyat sebelum menuju lokasi kuil.
Selama berada di kompleks situs sejarah tersebut, Xi Jinping memberikan penjelasan mendetail mengenai filosofi arsitektur bangunan yang merepresentasikan pandangan tradisional masyarakat China terhadap semesta. Objek utama berupa Aula Qinian yang berbentuk lingkaran melambangkan langit, sedangkan area pagar persegi di sekelilingnya menyimbolkan bumi.
"Pada (tahun) 2017, kita pernah mengunjungi Kota Terlarang dengan menyusuri Poros Tengah Beijing. Kuil Langit yang dikunjungi hari ini seusia dengan Kota Terlarang, mengandung makna 'langit bulat dan bumi persegi', serta menampilkan pandangan orang China mengenai alam semesta dan falsafah hidup mereka," jelas Xi, dilansir dari Antara.
Kompleks bangunan yang telah berdiri lebih dari 600 tahun ini memiliki struktur unik karena seluruh konstruksinya dibuat tanpa menggunakan paku besi. Para perajin masa lalu mengandalkan teknik sambungan kayu tradisional yang menunjukkan tingginya tingkat peradaban China kuno di jantung kota Beijing.
"Para penguasa China kuno menggelar upacara persembahan di Kuil Langit untuk memohon agar negara damai dan rakyat tenteram, serta agar cuaca baik dan panen melimpah," ucap Xi.
Presiden Xi Jinping menambahkan bahwa tradisi tersebut mencerminkan prinsip utama bahwa rakyat merupakan pondasi negara yang harus dijaga kekokohannya. Merespons penjelasan tersebut, Donald Trump menyatakan kekagumannya terhadap kedalaman budaya tradisional China dan teringat kembali pada memorinya saat mendatangi Kota Terlarang sembilan tahun silam.