Presiden China Xi Jinping dijadwalkan menerima kunjungan kenegaraan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing pada pekan ini guna memperkuat kemitraan strategis segala kondisi antara kedua negara. Pertemuan tingkat tinggi ini dilakukan di tengah tekanan kuat negara-negara Barat terhadap Beijing terkait konflik di Ukraina, seperti dilansir dari Internasional.
Lawatan selama dua hari tersebut merupakan kunjungan ke-25 Putin ke China sekaligus menjadi momentum penting bagi Rusia untuk memperluas kerja sama sektor energi. Beijing sendiri tetap memosisikan diri sebagai pihak netral dan mediator perdamaian, meskipun Moskow menegaskan kedua negara terus saling mendukung kepentingan inti mereka.
Kemitraan yang terjalin erat ini dinilai oleh para pengamat internasional sebagai pilar kebijakan luar negeri yang tidak mudah digoyahkan oleh pihak luar.
"Pertemuan Xi-Putin akan mengirimkan pesan kepada dunia bahwa kemitraan strategis China-Rusia tetap menjadi landasan utama kebijakan luar negeri kedua negara dan bahwa setiap upaya Amerika Serikat untuk memecah hubungan mereka ditakdirkan gagal," ujar Ian Storey, peneliti senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute.
Storey menilai Xi Jinping tidak memiliki pengaruh yang cukup besar untuk menekan Putin agar menghentikan perang di Ukraina karena China memahami kekalahan Rusia dapat melemahkan posisi politik Putin. Oleh karena itu, Beijing diproyeksikan akan terus memberikan dukungan diplomatik di forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta bantuan ekonomi dan teknologi dual-use.
Di sisi lain, pemerintah China menegaskan komitmennya untuk tidak memihak secara militer dalam konflik yang sedang berlangsung tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa kedua kepala negara akan membahas kerja sama bilateral di berbagai bidang, termasuk isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama.
Salah satu fokus utama dalam pertemuan ini adalah kelanjutan proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang kesepakatan harganya masih tertunda sejak September 2025. Krisis energi global saat ini dinilai memperkuat posisi tawar Rusia untuk menyediakan pasokan gas jangka panjang bagi China.
Selain proyek pipa gas tersebut, sektor minyak juga menjadi prioritas kerja sama mengingat kesepakatan penambahan pasokan minyak Rusia sebesar 2,5 juta ton per tahun ke China melalui Kazakhstan yang telah disetujui pada tahun 2025.
"Pada prinsipnya, kami telah mencapai tingkat kesepahaman yang tinggi terkait langkah maju yang serius ÔÇö bahkan sangat signifikan ÔÇö dalam kerja sama kami di sektor minyak dan gas," kata Vladimir Putin, Presiden Rusia kepada wartawan pada 9 Mei lalu.
Putin menambahkan bahwa dirinya akan sangat puas apabila kesepakatan tersebut dapat difinalisasi selama kunjungannya ke Beijing.