Presiden Tiongkok Xi Jinping menyambut kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing pada Selasa (19/5/2026) sebagai bentuk penegasan posisi diplomatik global Tiongkok. Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung hanya berselang beberapa hari setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di ibu kota Tiongkok tersebut.
Langkah diplomatik ini memicu sorotan karena Xi Jinping mampu menunjukkan kesetaraan politis dengan Amerika Serikat tanpa memberikan konsesi besar. Pada saat bersamaan, Beijing tetap konsisten mempertahankan arah kebijakan luar negerinya yang menyokong Rusia, Iran, dan Korea Utara.
Ambisi penguatan pengaruh di panggung internasional ini berjalan beriringan dengan dinamika ekonomi domestik Tiongkok yang dilansir dari Media Indonesia. Kebijakan agresif Tiongkok memicu respons pembatasan perdagangan dari Washington terhadap komoditas ekspor Negeri Panda.
Aktivitas manufaktur Tiongkok mencatat dominasi besar dengan jumlah industri yang menguasai lebih dari separuh ekspor global melonjak dari 192 industri pada 2021 menjadi 315 industri pada 2024. Kendati demikian, Beijing menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahunan terendah dalam tiga dekade terakhir pada rentang 4,5% hingga 5% untuk tahun ini.
Strategi ekonomi yang diterapkan Xi Jinping memicu kelebihan kapasitas produksi karena barang yang dihasilkan melebihi daya serap pasar internasional. Kondisi tersebut memicu gesekan dagang global, meskipun Beijing memandang kemandirian rantai pasok sebagai langkah krusial menghindari kerentanan strategis.
"Visi Xi adalah Tiongkok harus memproduksi hampir semua hal yang penting, mendominasi setiap rantai pasokan yang signifikan, dan menghindari kerentanan," ujar Robert Hormats, mantan penasihat ekonomi senior Henry Kissinger.
Pertemuan pada Mei 2026 ini merupakan kesembilan kalinya bagi kedua pemimpin negara sejak pecahnya invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Namun, konjungtur politik saat ini menempatkan Rusia yang semakin bergantung pada dukungan material dan pembelian minyak dari Tiongkok sebagai mitra junior.
Posisi geopolitik Moskwa melemah menyusul kegagalan diplomatik dalam mencegah kesepakatan damai antara Armenia dan Azerbaijan yang ditengahi Amerika Serikat. Di sisi lain, fokus utama Tiongkok tetap tertuju pada dinamika wilayah Taiwan.
Pernyataan Donald Trump dalam wawancara bersama Fox News dinilai memberikan keuntungan bagi Beijing setelah mengindikasikan kelonggaran sikap terhadap Taiwan. Trump menyebut paket penjualan senjata ke wilayah tersebut dapat dijadikan sebagai kartu tawar-menawar dalam negosiasi.
Apabila Washington menggunakan penjualan senjata untuk mencari konsesi dari Taipei, tindakan tersebut dinilai melanggar komitmen Amerika Serikat sejak tahun 1982. Tiongkok memprediksi bahwa kompetisi jangka panjang dengan Amerika Serikat pada akhirnya akan ditentukan oleh dominasi kontrol atas pabrik dan rantai pasokan global.
| Aspek Strategis | Posisi Tiongkok (Xi Jinping) |
|---|---|
| Hubungan dengan AS | Mengejar Kemitraan Strategis Konstruktif tetapi tetap bersaing secara ekonomi. |
| Hubungan dengan Rusia | Mendukung secara material sebagai penyokong utama ekonomi Moskow. |
| Senjata Ekonomi | Mengontrol akses mineral kritis untuk menekan industri teknologi global. |