Presiden Tiongkok Xi Jinping membawa narasi sejarah kuno ke meja diplomasi saat menjamu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing pada Kamis (14/05/2026).
Dilansir dari Media Indonesia, Xi Jinping merujuk pada Perang Peloponnesos di Yunani kuno sebagai peringatan strategis mengenai hubungan kedua negara berkekuatan besar tersebut.
Pertemuan ini berlangsung di tengah ketegangan Selat Taiwan dan konflik Timur Tengah yang masih membayangi stabilitas politik global.
Xi Jinping melontarkan pertanyaan retoris mengenai kemungkinan kedua negara melampaui fase kritis dalam hubungan internasional.
"Dapatkah Tiongkok dan Amerika Serikat melampaui apa yang disebut sebagai Jebakan Thucydides dan membentuk paradigma baru bagi hubungan kekuatan besar?" tanya Xi.
Istilah Jebakan Thucydides merujuk pada teori saat kekuatan baru yang bangkit mengancam posisi kekuatan dominan, yang sering kali berakhir dengan peperangan.
Teori ini mengambil dasar dari tulisan sejarawan Thucydides mengenai kebangkitan Athena yang memicu ketakutan pada Sparta hingga perang tidak terhindarkan.
Masalah Taiwan menjadi poin paling krusial yang ditegaskan oleh Xi Jinping dalam dialog bilateral tersebut.
Ia memperingatkan bahwa kesalahan kecil dalam menangani isu Taiwan dapat memicu konflik fisik yang membahayakan dunia.
Meski memberikan peringatan tajam, Xi menunjukkan sikap lebih lunak saat sesi perjamuan kenegaraan pada malam harinya.
Ia menilai bahwa ambisi peremajaan Tiongkok dan visi Make America Great Again milik Trump sebenarnya bisa berjalan beriringan.
"Pencapaian peremajaan besar bangsa Tiongkok dan upaya membuat Amerika hebat lagi (Make America Great Again) sepenuhnya dapat berjalan seiring dan memajukan kesejahteraan seluruh dunia," ujar Xi.
Menanggapi hal itu, Presiden Donald Trump memberikan respons melalui media sosial pada Jumat pagi (15/05/2026).
Trump menganggap referensi sejarah Xi sebagai sindiran halus terhadap kondisi internal Amerika Serikat saat ini.
"Xi merujuk dengan sangat elegan bahwa Amerika Serikat mungkin merupakan negara yang sedang menurun," tulis Trump.
Namun, Trump segera membela posisi negaranya dengan mengeklaim bahwa Amerika Serikat kini telah kembali menjadi negara paling hebat di dunia.
Ia juga menyatakan harapan agar hubungan antara Washington dan Beijing dapat terjalin lebih kuat dari masa-masa sebelumnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut membeberkan bahwa pembicaraan rahasia kedua pemimpin juga mencakup krisis Iran hingga nasib Jimmy Lai.
Selain isu politik, Trump mengeklaim adanya kesepakatan energi di mana Tiongkok akan membeli minyak dari Texas hingga Alaska.
Pertemuan di Beijing ini menandai babak baru rivalitas hegemonik abad ke-21 yang mencoba menghindari kutukan sejarah ribuan tahun lalu.
| Poin Utama Pertemuan | Detail |
|---|---|
| Fokus Utama | Menghindari Jebakan Thucydides (Perang antara kekuatan lama vs baru). |
| Isu Taiwan | Garis merah bagi Tiongkok; kesalahan penanganan dapat memicu konflik. |
| Visi Bersama | Menyelaraskan Peremajaan Tiongkok dengan agenda MAGA AS. |