Presiden Tiongkok Xi Jinping dilaporkan sedang mempersiapkan kunjungan kenegaraan ke Korea Utara dalam waktu dekat. Agenda diplomatik ini dijadwalkan dapat berlangsung paling cepat pada minggu depan atau awal Juni, menurut laporan Yonhap News yang dilansir dari Media Indonesia.
Perjalanan tersebut akan menjadi kunjungan luar negeri pertama Xi Jinping pada tahun ini. Agenda ini sekaligus menandai kunjungan perdana sang Presiden Tiongkok ke Pyongyang dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.
Langkah diplomatik ke Pyongyang dilakukan tepat setelah Xi Jinping mengadakan pertemuan puncak berturut-turut dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing. Pertemuan tersebut menegaskan posisi Tiongkok di tengah fragmentasi global.
Pengamat internasional menilai bahwa rangkaian pertemuan ini menjadi strategi Beijing untuk memposisikan diri sebagai manajer pusat multipolaritas dunia. Tiongkok berupaya menjaga semua opsi strategis tetap terbuka dengan berbicara kepada semua pihak.
"Di dunia yang tidak menentu akibat ketidakpastian gaya Trump, Xi mempresentasikan Beijing sebagai manajer pusat multipolaritas," ujar Brian Wong, asisten profesor di Universitas Hong Kong.
Wong menambahkan bahwa pesan dasar dari langkah Beijing ini sangat jelas bagi lanskap politik global.
"Pesan dasarnya jelas: Tiongkok akan berbicara dengan semua pihak, menyerap tekanan dari berbagai arah, dan menjaga opsi strategisnya tetap terbuka," ujar Brian Wong, asisten profesor di Universitas Hong Kong.
Sebelum rencana kunjungan ini mencuat, Xi Jinping telah mencapai kesepakatan kerangka kerja stabilitas strategis dengan Donald Trump untuk mengelola persaingan kekuatan besar. Sementara itu, dalam pertemuan dengan Vladimir Putin, Xi Jinping menahan diri dari menyetujui proyek pipa gas baru meskipun memuji hubungan bilateral kedua negara.
Rencana pertemuan dengan Kim Jong Un diprediksi akan memperlihatkan besarnya pengaruh Beijing atas Pyongyang kepada Trump maupun Putin. Kendati demikian, program nuklir Korea Utara yang terus dipercepat dan hubungan militer Pyongyang dengan Rusia pascainvasi Ukraina tetap menjadi tantangan tersendiri.
Ketegangan regional juga diwarnai perbedaan pendapat mengenai status nuklir Korea Utara antara Washington dan Beijing. Gedung Putih menyatakan adanya konfirmasi tujuan denuklirisasi, tetapi poin tersebut tidak dicantumkan dalam rilis resmi pihak Tiongkok.
Aktivitas diplomatik Tiongkok tercatat sangat tinggi sejak Januari dengan menerima lebih dari selusin pemimpin dunia dari berbagai benua. Data Bloomberg News menunjukkan proporsi kunjungan pemimpin Barat tahun ini merupakan yang tertinggi sejak 2012.
"Rentetan kunjungan ini memperkuat persepsi bahwa Beijing dan Xi sangat aktif dan sentral dalam urusan dunia," kata Ja Ian Chong, profesor ilmu politik di Universitas Nasional Singapura.
Stabilitas yang ditunjukkan Beijing dinilai memberikan daya tarik tersendiri bagi negara-negara lain di tengah volatilitas pemerintahan Amerika Serikat saat ini.