Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi bahwa seorang warga negara asing (WNA) di Jakarta dinyatakan negatif hantavirus setelah sempat menjadi kontak erat kasus dari kapal pesiar MV Hondius. Kepastian ini diperoleh usai pemeriksaan laboratorium menyeluruh yang dipicu oleh notifikasi internasional pada 7 Mei 2026 malam, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.
Hasil negatif tersebut keluar setelah otoritas kesehatan melakukan penyelidikan epidemiologi intensif terhadap pria berusia 60 tahun tersebut. Penelusuran dilakukan karena subjek memiliki riwayat perjalanan satu penginapan dengan pasien konfirmasi hantavirus yang meninggal dunia dalam perjalanan lintas negara.
Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa pemerintah bergerak cepat segera setelah mendapatkan laporan dari International Health Regulation (IHR) Inggris. Koordinasi teknis dilakukan untuk memitigasi risiko penularan virus di wilayah ibu kota.
"Begitu kami menerima notifikasi pada 7 Mei pukul 21.55 WIB, kami langsung melakukan koordinasi dan keesokan harinya penyelidikan epidemiologi dilakukan. Ini penting untuk memastikan risiko penularan bisa segera dikendalikan," ujar Andi Saguni, Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Tim medis telah menguji berbagai jenis spesimen dari subjek, mulai dari serum, urin, saliva, hingga usap tenggorok menggunakan metode PCR. Meskipun subjek diketahui memiliki kondisi penyerta berupa hipertensi dan kebiasaan vaping, kondisi fisiknya dilaporkan stabil tanpa gejala klinis hantavirus.
"Seluruh sampel yang diperiksa, baik PCR maupun spesimen lainnya, hasilnya negatif hantavirus. Ini menjadi kabar baik dari proses investigasi ini," ujar Andi Saguni, Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Pemerintah tetap memantau situasi secara ketat mengingat laporan global menunjukkan tingkat fatalitas yang signifikan pada klaster MV Hondius. Virus yang teridentifikasi merupakan strain Andes yang memicu Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dengan risiko kematian tinggi.
"Perlu tetap waspada karena dalam klaster global yang dilaporkan WHO, terdapat tiga kematian dari kasus di kapal pesiar tersebut dengan case fatality rate mencapai 37,5 persen," ujar Andi Saguni, Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Berdasarkan catatan medis nasional, Indonesia hingga saat ini belum pernah mendeteksi keberadaan kasus HPS yang menular dari tikus ke manusia. Sejarah medis Indonesia hanya mencatat infeksi tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dalam skala yang sangat terbatas sejak tiga dekade lalu.
"Di Indonesia, sampai saat ini belum ada laporan penularan HPS dari tikus ke manusia. Kasus yang ada hanya HFRS dalam jumlah terbatas," kata Andi Saguni, Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
Sebagai antisipasi lanjutan, Kemenkes memperketat pengawasan di pintu masuk negara melalui 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan. Penggunaan pemindai suhu dan sistem deteksi dini di 21 rumah sakit rujukan nasional terus disiagakan untuk memantau potensi penyakit infeksi emerging di masa mendatang.