Sektor pariwisata Jepang dan China mengalami kemerosotan signifikan menyusul memburuknya hubungan diplomatik kedua negara sejak pernyataan kontroversial Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November 2025. Dilansir dari Detik Travel pada Sabtu (2/5/2026), kondisi ini memicu larangan bepergian dari pemerintah China dan pembatalan penerbangan massal.
Krisis ini berdampak langsung pada agen perjalanan di kedua negara yang kini menghadapi tumpukan pembatalan tur. Tekanan ekonomi semakin berat bagi industri wisata karena lonjakan harga bahan bakar pesawat akibat konflik di Timur Tengah yang menurunkan minat kunjungan ke China.
Data dari pelaku industri menunjukkan penurunan drastis pada jumlah kunjungan antarnegara. Pejabat agen perjalanan di Shanghai melaporkan bahwa separuh dari tur kelompok asal Jepang ke kota tersebut telah dibatalkan sejak akhir tahun lalu akibat penghentian jadwal penerbangan secara mendadak.
"Perjalanan wisatawan Jepang turun 90 persen sebagai akibat dari peningkatan pesat pembatalan pemesanan dan pengurangan penerbangan," kata seorang pejabat agen perjalanan China.
Penurunan ini merupakan buntut dari pernyataan Takaichi di parlemen yang menyarankan dukungan Jepang terhadap Amerika Serikat jika terjadi serangan ke Taiwan. Respons keras China meliputi pembatasan perdagangan dan imbauan kepada warga agar tidak mengunjungi Jepang yang berujung pada penghentian rute oleh maskapai penerbangan.
Kondisi ini memukul telak para pemandu wisata profesional yang bergantung pada kunjungan turis asing. Di Provinsi Shaanxi, para pemandu wisata yang mengelola situs Warisan Dunia UNESCO kini menghadapi ancaman pengangguran massal karena hilangnya pendapatan.
"Saya belum memandu satu pun turis Jepang tahun ini," kata seorang pria Tiongkok yang telah bekerja sebagai pemandu berbahasa Jepang selama sekitar 30 tahun.
Masalah serupa terjadi di ibu kota China, di mana arus wisatawan hampir berhenti total. Kondisi ini membuat para pekerja sektor jasa pariwisata khawatir akan keberlangsungan hidup mereka di tengah ketidakpastian politik.
"Hampir tidak ada turis Jepang sejak Maret dan pendapatannya telah menurun hingga 90 persen," kata pemandu wisata lain di Beijing.
Mengingat wisatawan Jepang sebelumnya merupakan salah satu pasar terbesar bagi China, pemulihan industri diprediksi akan memakan waktu lama. Perbaikan hubungan diplomatik dan ketersediaan kembali jadwal penerbangan menjadi syarat mutlak bagi normalisasi bisnis paket wisata internasional di kawasan tersebut.