WHO Tetapkan Darurat Global Setelah Wabah Ebola di Kongo Lampaui 800 Kasus

WHO Tetapkan Darurat Global Setelah Wabah Ebola di Kongo Lampaui 800 Kasus
Foto: Ilustrasi WHO Tetapkan Darurat Global Setelah Wabah Ebola di Kongo Lampaui 800 Kasus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama para peneliti dari Imperial College London mendeteksi lonjakan masif wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC). Jumlah infeksi nyata di lapangan diperkirakan telah melampaui 800 kasus, melewati angka resmi yang dilaporkan otoritas setempat.

Kekhawatiran mengenai penyebaran ini semakin menguat setelah Uganda mengonfirmasi temuan infeksi pada seorang pelancong yang datang dari Provinsi Ituri, wilayah timur Kongo. Data pemodelan matematika menunjukkan skala epidemi yang jauh lebih masif dari laporan tertulis.

"Secara kolektif, hal ini menunjukkan bahwa epidemi ini lebih besar daripada yang dipastikan saat ini. Namun, besaran pastinya masih belum pasti," tulis para peneliti dalam laporan tersebut.

Tim riset yang dipimpin oleh Anne Cori, pakar pemodelan matematika dan statistik dari Medical Research Council Centre for Global Infectious Disease Analysis, Imperial College, memaparkan estimasi terbaru.

Para peneliti memperkirakan sekitar 400 hingga 800 kasus Ebola akibat virus Bundibugyo telah terjadi di Kongo hingga 17 Mei 2026. Angka tersebut berpotensi menembus 1.000 kasus akibat tingginya ketidakpastian data di lapangan.

Hingga pertengahan Mei, lebih dari 540 kasus suspek dan puluhan kematian dilaporkan sejak awal kemunculan wabah pada akhir April dengan pusat persebaran di Provinsi Ituri. Karakteristik khusus virus Bundibugyo yang berbeda dari strain Zaire menyulitkan proses diagnostik dan penanganan medis, dilansir dari Media Indonesia.

Merespons situasi yang kian mengancam keamanan kesehatan lintas batas, WHO menetapkan status wabah ini sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC). Status ini merupakan tingkat alarm tertinggi dalam protokol kesehatan global.

Langkah ini diambil menyusul risiko penyebaran internasional yang sudah terbukti dengan temuan kasus di Uganda. Para ahli memperingatkan perlunya intervensi masif dan pelacakan kontak yang agresif agar angka infeksi riil tidak semakin menjauh dari sistem pendataan resmi.

Kondisi keamanan yang fluktuatif di wilayah Ituri menjadi tantangan berat bagi tim medis. Konflik lokal menghambat petugas untuk menjangkau daerah terpencil yang diduga menjadi kantong penularan virus baru.

Laju Penularan Catat Rekor Terburuk

Data pendukung menunjukkan laju penularan Ebola kali ini mencatat rekor tercepat dalam sejarah dengan temuan 500 kasus baru dalam sepekan, melampaui kecepatan wabah besar tahun 2014. Total korban tewas akibat virus Bundibugyo ini telah mencapai 139 jiwa.

WHO menegaskan bahwa kesiapan vaksin untuk strain Bundibugyo masih membutuhkan waktu berbulan-bulan. Di tengah situasi darurat ini, proses evakuasi medis untuk dokter asal Amerika Serikat menuju Eropa mulai dilakukan.

Meski risiko penularan ditetapkan tinggi pada tingkat regional di Afrika, WHO menyatakan status ini belum masuk dalam kategori darurat pandemi global. Sementara itu, Kementerian Kesehatan memastikan hingga saat ini belum ada kasus Ebola yang terdeteksi masuk ke wilayah Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi