WHO Pimpin Penanggulangan Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo

WHO Pimpin Penanggulangan Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo
Foto: Ilustrasi WHO Pimpin Penanggulangan Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo.

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus memimpin langsung upaya penanggulangan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) setelah virus tersebut merenggut lebih dari 200 nyawa, dilansir dari Media Indonesia pada Mei 2026.

Hingga data terbaru per 24 Mei, WHO mencatat 10 kematian terkonfirmasi dan 223 kematian diduga akibat Ebola dari total lebih dari 1.000 kasus sejak wabah diumumkan pada 15 Mei. Lembaga kesehatan dunia tersebut memperingatkan bahwa penyebaran nyata di lapangan kemungkinan jauh lebih luas karena virus diduga telah menyebar tanpa terdeteksi selama beberapa waktu.

"Hal itu bisa dihentikan," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus, Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Tedros menambahkan bahwa WHO tidak mendukung larangan perjalanan karena dinilai tidak banyak membantu. Kedatangan pemimpin badan kesehatan tersebut ke ibu kota Kinshasa bertujuan untuk memastikan langkah penanganan berjalan optimal.

"Bersama-sama, kita akan mengatasi wabah ini. Saya akan melakukan segala daya saya untuk membantu Anda," lanjut Tedros Adhanom Ghebreyesus, Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kondisi di lapangan semakin kompleks karena episentrum wabah berada di Provinsi Ituri, wilayah timur Kongo yang didera kekerasan oleh berbagai kelompok bersenjata termasuk pemberontak M23 dan milisi Koperasi untuk Pembangunan Kongo. Situasi konflik dan perpindahan penduduk yang kian sengit dalam setahun terakhir membuat penanganan medis mengalami hambatan besar.

"Konflik dan perpindahan penduduk membuat segalanya menjadi lebih sulit," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Atas dasar tersebut, Tedros menyampaikan imbauan mendesak agar pihak-pihak yang bertikai segera mendeklarasikan gencatan senjata demi kelancaran misi kemanusiaan.

"Saya menyampaikan imbauan langsung kepada semua pihak yang bertikai di wilayah ini: tolong, nyatakan gencatan senjata. Tidak ada tujuan, tidak ada konflik, tidak ada keluhan yang sepadan dengan mengorbankan orang-orang tidak berdosa hingga tewas akibat penyakit yang sebenarnya dapat pencegah," lanjut Tedros Adhanom Ghebreyesus, Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Di sisi lain, tantangan besar dihadapi karena belum ada vaksin atau pengobatan medis yang tersedia untuk strain Bundibugyo yang menjadi penyebab wabah kali ini. Penanganan darurat terus diupayakan sembari menunggu kesiapan logistik medis yang ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026.

"Apa yang dapat kami sampaikan secara pasti, pada akhir tahun 2026 ini, Africa CDC akan memastikan bahwa kita memiliki vaksin dan obat untuk melawan Bundibugyo. Pemimpin kami siap berinvestasi secara teknis dan strategis," tutur Jean Kaseya, Kepala Africa CDC.

Sementara bantuan logistik dari WHO dan UNICEF mulai mendarat di Ituri, negara tetangga seperti Uganda langsung menutup perbatasan setelah mencatat satu kematian terkonfirmasi dan mewajibkan isolasi mandiri 21 hari bagi warga yang kembali dari DRC. Langkah proteksi juga diambil Amerika Serikat yang melarang masuk warga asing dari Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan selama 30 hari serta berencana membangun fasilitas karantina di Kenya.

Artikel terkait

Rekomendasi