Praktisi kesehatan masyarakat dr Ngabila Salama memperingatkan masyarakat untuk memperketat pengawasan terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada kelompok lansia di tengah cuaca ekstrem El Nino pada Jumat (17/4/2026). Kenaikan suhu dan penurunan kualitas udara akibat debu polusi memicu risiko gangguan pernapasan serius pada usia lanjut.
Risiko komplikasi kesehatan meningkat pesat bagi warga senior karena paparan panas kering yang dapat memicu dehidrasi berat hingga kematian. Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, pencegahan harus dimulai sejak munculnya indikasi awal tanpa menunggu kondisi fisik menurun drastis.
Dokter Ngabila Salama menjelaskan bahwa langkah proteksi mandiri dapat diterapkan oleh keluarga untuk meminimalisir keparahan penyakit di rumah. Upaya tersebut mencakup pemenuhan hidrasi dan menjaga asupan nutrisi meskipun nafsu makan berkurang akibat sakit.
"Jadi jangan menunggu sampai parah," ujar Ngabila Salama, Praktisi Kesehatan Masyarakat.
Pihaknya menekankan bahwa protokol kesehatan sederhana seperti pemakaian masker tetap relevan untuk menyaring polutan. Terapi obat-obatan ringan juga diperbolehkan guna meredakan gejala yang dirasakan oleh pasien lansia.
"Istirahat cukup, banyak minum (hangat lebih nyaman), makan tetap jalan walau sedikit," kata Ngabila Salama, Praktisi Kesehatan Masyarakat.
Munculnya sejumlah tanda bahaya menjadi sinyal bagi keluarga untuk segera membawa lansia ke fasilitas kesehatan. Kriteria kedaruratan meliputi sesak napas, demam yang tidak kunjung reda dalam tiga hari, serta penurunan kesadaran atau kondisi lemas yang ekstrem.
"Kemudian lemas sekali dan tidak mau makan minum, penurunan kesadaran," ujar Ngabila Salama, Praktisi Kesehatan Masyarakat.
Perkembangan penyakit dari infeksi saluran napas atas menjadi radang paru-paru atau pneumonia pada lansia terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini disebabkan oleh kerentanan fisik yang diperburuk oleh faktor lingkungan selama fenomena El Nino.
"Pada lansia, ISPA bisa cepat berubah jadi pneumonia, jadi jangan terlalu santai," kata Ngabila Salama, Praktisi Kesehatan Masyarakat.
Kualitas udara yang memburuk akibat kemarau panjang membuat partikel debu lebih mudah terhirup dan mengiritasi saluran pernapasan. Dampak panas ekstrem ini juga berkaitan langsung dengan stabilitas kondisi kronis pada lansia.
"Pada lansia, panas bukan sekadar tidak nyaman, tapi bisa jadi pemicu dehidrasi berat, gangguan napas, hingga kematian kalau tidak diantisipasi," ujar Ngabila Salama, Praktisi Kesehatan Masyarakat.