Akademisi Universitas Warmadewa Ubah Limbah Bonggol Pisang Jadi Bahan Pangan

Akademisi Universitas Warmadewa Ubah Limbah Bonggol Pisang Jadi Bahan Pangan
Foto: Ilustrasi Akademisi Universitas Warmadewa Ubah Limbah Bonggol Pisang Jadi Bahan Pangan.

Tim akademisi dari Universitas Warmadewa (Unwar) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) lewat pemanfaatan limbah bonggol pisang menjadi bahan pangan fungsional di Desa Batuan, Sukawati, Gianyar, pada Kamis (28/5), seperti dilansir dari Media Indonesia.

Langkah hilirisasi riset bertajuk "Inovasi Zero Waste" ini menyasar tumpukan sampah organik dari sisa sarana upakara adat di Bali yang kerap terbuang. Melalui sentuhan teknologi pangan, bagian tanaman yang sebelumnya dinilai tidak layak konsumsi kini diubah menjadi komoditas bernilai guna.

Kajian laboratorium menunjukkan bahwa bonggol pisang sejatinya menyimpan kandungan karbohidrat, serat pangan yang tinggi, serta senyawa antioksidan. Potensi nutrisi tersebut kini diangkat untuk memperkuat kemandirian pangan dalam skala rumah tangga.

"Fokus utama kami adalah mengedukasi dan mengubah pola pikir masyarakat dari 'membuang' menjadi 'mengolah'. Dengan sentuhan teknologi pangan, potensi nutrisi yang terabaikan ini diangkat derajatnya untuk mendukung kemandirim dan ketahanan pangan tingkat rumah tangga," ujar Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si, Ketua Tim PKM Unwar.

Kegiatan pengabdian yang didanai melalui skema internal Unwar ini turut melibatkan para mahasiswa beserta dosen Kimia Terapan untuk mengedukasi ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat. Pengenalan dua alat teknologi tepat guna (TTG), yakni Vacuum Frying dan Colloid Mill, menjadi instrumen utama dalam standardisasi proses produksi.

"Sinergi kearifan lokal dengan inovasi sains ini tidak hanya menyelesaikan masalah degradasi lingkungan akibat penumpukan sampah organik, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi kreatif bagi perempuan di pusat seni Gianyar," pungkas Nengah Muliarta.

Diversifikasi produk yang dihasilkan dari integrasi teknologi ini meliputi tepung alternatif, bubur, hingga minuman herbal berserat tinggi. Selain aspek pengolahan, kelompok PKK juga dibekali dengan strategi pemasaran digital, manajemen usaha, serta pemanfaatan pasar daring.

"Ini menjadi pengetahuan dan keterampilan baru bagi kami dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekitar kami," ujar Kadek Dewi Sunastrini, Amd.Keb, Ketua TP-PKK Desa Batuan.

Artikel terkait

Rekomendasi