Warganet Kaitkan Temuan Serangga Tak Mati Diinjak dengan Konspirasi Bill Gates

Warganet Kaitkan Temuan Serangga Tak Mati Diinjak dengan Konspirasi Bill Gates
Foto: Ilustrasi Warganet Kaitkan Temuan Serangga Tak Mati Diinjak dengan Konspirasi Bill Gates.

Sebuah unggahan warganet mengenai temuan serangga yang tidak mati meski telah diinjak-injak memicu perbincangan mengenai teori konspirasi rekayasa genetika yang melibatkan miliarder Bill Gates. Narasi tersebut mengaitkan keberadaan kutu pembawa sindrom alergi daging dengan agenda bisnis pangan artifisial, Jumat (22/5/2026).

Perbincangan ini bermula dari keresahan seorang pengguna media sosial yang menemukan serangga pemakan darah melekat pada tubuhnya setelah mendaki gunung. Fenomena tersebut kemudian direspons oleh warganet lain dengan mengaitkannya pada isu penyebaran serangga hasil modifikasi genetika oleh filantropis terkemuka, seperti dilansir dari Detik iNET.

Seorang pengguna media sosial mengisahkan pengalamannya saat menemukan serangga misterius tersebut di tubuhnya.

"kelihatannya hisap darah aku. Ku injak-injak pites juga ga mati-mati, takut banget," tulis sebuah akun.

Unggahan tersebut kemudian ditanggapi oleh pengguna lain yang mengaitkan temuan itu dengan isu konspirasi pangan.

"Isunya sih memang serangga ini dimodifikasi genetiknya dan sengaja disebar oleh salah satu filantropi dan teknokrat yang terkenal itu. Biar orang-orang alergi daging, jadi, daging artifisial atau lab-grown meat dia jadi laku," ujar seseorang.

Laporan media independen The Independent menyatakan bahwa teori konspirasi kutu yang melibatkan pendiri Microsoft tersebut sebenarnya telah dibantah sejak tiga tahun lalu. Tuduhan tanpa bukti itu mengklaim Gates melepaskan kutu Lone Star dengan sindrom alpha-gal agar konsumen beralih ke produk daging nabati tempat ia berinvestasi.

Faktanya, sindrom alpha-gal berkaitan dengan kutu Lone Star, yang sama sekali berbeda dari program penelitian modifikasi genetika kutu sapi di Inggris yang sebagian didanai oleh Gates. Selain Gates Foundation, produsen vaksin Covid-19 Pfizer juga menjadi sasaran tuduhan serupa oleh pengguna media sosial terkait motif komersial peluncuran vaksin baru.

Seorang netizen menuduh Pfizer sengaja menanam kutu demi meningkatkan permintaan produk kesehatan mereka yang akan datang.

"Tahukah kalian bahwa Pfizer mulai mengerjakan vaksin kutu pada tahun 2021 dan akan dirilis pada tahun 2027? Waktu yang sangat tepat, ya?" tulis seorang netizen.

Pihak Pfizer sendiri telah mengumumkan rencana pengembangan vaksin pencegah penyakit Lyme sejak tahun 2020 dengan tingkat efektivitas di atas 70 persen. Klaim konspirasi tersebut langsung dibantah oleh lembaga nirlaba Public Health Communications Collaborative yang menegaskan tidak adanya bukti valid.

Perwakilan dari lembaga Public Health Communications Collaborative memberikan klarifikasi resmi mengenai tuduhan yang beredar di media sosial.

"Tidak ada bukti untuk mendukung klaim ini," kata Public Health Communications Collaborative yang dibentuk sebagai organisasi nirlaba.

Lembaga yang berdiri di tengah pandemi Covid-19 tersebut juga meluruskan misinformasi mengenai jenis teknologi yang digunakan dalam vaksin tersebut.

"Postingan lain secara keliru mengklaim bahwa vaksin tersebut, yang menargetkan protein dalam bakteri penyebab penyakit Lyme, berbasis mRNA dan mengulangi mitos tentang keamanan vaksin mRNA," imbuh mereka.

Hingga saat ini, baik Gates Foundation maupun Pfizer dilaporkan belum memberikan tanggapan resmi saat dimintai komentar oleh The Independent terkait isu tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi