Program pemilahan sampah di wilayah Rorotan, Jakarta Utara, masih menemui kendala edukasi karena perbedaan tingkat kesadaran masyarakat dalam mengubah kebiasaan membuang sampah dari rumah pada Jumat (8/5/2026). Upaya ini kembali digencarkan sejak Februari 2026 untuk meminimalkan beban pembuangan sampah akhir.
Kader Gerakan Pilah Sampah RW 07 Rorotan, Nani Darsonowati (46), menjelaskan bahwa inisiatif ini sebenarnya sudah berjalan sejak tahun lalu. Namun, konsistensi warga dalam memisahkan jenis sampah masih memerlukan pendampingan berkelanjutan agar menjadi pola hidup sehari-hari, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
ÔÇ£Kendalanya memang bertahap, karena enggak semuanya sama. Pemikiran dan hati nurani sosial tiap warga itu belum semuanya sama. Jadi sampai saat ini kita edukasi enggak berhenti untuk memilah sampah,ÔÇØ kata Nani Darsonowati, Kader Gerakan Pilah Sampah RW 07.
Nani mengungkapkan bahwa pada awalnya terdapat resistensi dari sejumlah warga yang merasa keberatan dengan prosedur baru ini. Beberapa penduduk mempertanyakan urgensi serta keuntungan ekonomis yang didapat jika mereka melakukan pemilahan secara mandiri di rumah masing-masing.
ÔÇ£Ada juga warga yang bilang, ÔÇÿKok kita disuruh milah sih? Ini sampah yang kita pilah emang kalau ditimbang ada uangnya?ÔÇÖÔÇØ ujar Nani Darsonowati, Kader Gerakan Pilah Sampah RW 07.
Meski menghadapi kendala komunikasi, partisipasi warga dilaporkan mulai membaik seiring dengan distribusi sarana pendukung seperti lubang sisa dapur (losida), ember, dan tong drop point. Saat ini, sampah organik rutin diangkut tiga kali seminggu untuk diproses di TPS 3R RW 07.
Lurah Rorotan, Ahmad Fitroh, menyatakan bahwa otoritas setempat saat ini memprioritaskan pemisahan menjadi dua kategori utama, yakni sampah organik dan anorganik. Strategi ini diambil untuk memudahkan warga yang belum terbiasa dengan sistem kategorisasi yang lebih kompleks.
"Masyarakat kan tidak semuanya paham kaitan dengan pemilahan sampah menjadi empat jenis itu. Kita mainkan untuk dua dulu," kata Ahmad Fitroh, Lurah Rorotan.
Pihak kelurahan mencatat bahwa warga yang sudah mulai memilah sampah merasakan manfaat lingkungan yang signifikan, terutama berkurangnya aroma tidak sedap di sekitar hunian. Hal ini terjadi karena sampah organik langsung diolah atau dibuang ke titik yang telah ditentukan setiap harinya.
ÔÇ£Ketika edukasi masuk, masyarakat akhirnya merasa di rumahnya jadi tidak bau. Karena setelah dipilah, sampah organiknya hari itu juga langsung dibuang,ÔÇØ ujar Ahmad Fitroh, Lurah Rorotan.
Proses sosialisasi ini dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pengurus RW hingga kader PKK, Dasawisma, dan petugas jumantik. Langkah ini diambil untuk memastikan adanya teladan langsung di tengah pemukiman terkait pentingnya pengelolaan sampah.
ÔÇ£Dari situ, saya mempunyai keyakinan bahwa lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah ini sebetulnya kan banyak. Kami berkolaborasi semuanya untuk memberikan contoh kepada masyarakat," tambah Ahmad Fitroh, Lurah Rorotan.