Warga Manggarai Konsumsi Es Teh Gentong Sebagai Kebutuhan Pokok

Warga Manggarai Konsumsi Es Teh Gentong Sebagai Kebutuhan Pokok
Foto: Ilustrasi Warga Manggarai Konsumsi Es Teh Gentong Sebagai Kebutuhan Pokok.

Warga permukiman RW 07 Manggarai, Jakarta Selatan, menjadikan es teh gentong sebagai minuman favorit harian yang dikonsumsi lintas generasi mulai dari balita hingga lansia pada Rabu (29/4/2026). Tingginya minat masyarakat membuat pedagang di setiap gang mampu menjual puluhan porsi setiap hari untuk memenuhi permintaan warga setempat.

Fenomena ini terlihat dari operasional warung es teh yang sudah melayani pembeli sejak pukul 09.00 WIB. Dilansir dari Megapolitan, salah satu pedagang bernama Yuli Yanti (34) mampu menjual minimal 50 plastik es teh gentong per hari dengan menjaga kualitas rasa melalui penggunaan gula pasir asli.

"Kebanyakan yang beli dari anak-anak kecil hingga dewasa atau tua," ungkap Yuli Yanti, Pedagang.

Kondisi serupa dialami oleh Aas (51), pedagang lain di lokasi yang sama. Ia menyatakan bahwa pelanggannya tidak terbatas pada usia tertentu karena rasa manis minuman tersebut sangat diminati oleh anak-anak.

"Kebanyakan pembeli campur, anak kecil soalnya juga pada suka sama es teh," tutur Aas, Pedagang.

Bagi warga sekitar, minuman seharga Rp 2.000 per porsi ini telah bergeser menjadi kebutuhan dasar. Yati (53), seorang warga setempat, bahkan mengalokasikan anggaran rutin sebesar Rp 6.000 setiap hari untuk membeli tiga porsi es teh guna dikonsumsi setelah makan siang.

"Karena sudah faktor kebiasaan juga sih mungkin. Jadi, kalau habis makan enggak minum es teh ada yang kurang, kurang nendang, kurang sip gitu, enak sih," kata Yati, Warga.

Yati menambahkan bahwa budaya meminum es teh manis sudah diperkenalkan kepada warga sejak usia dini. Ia mengamati bahwa hampir di setiap gang terdapat penjual, dan kebiasaan ini bahkan diterapkan oleh para ibu kepada bayi mereka.

"Hampir seluruh tiap gang ada pedagang es teh, dari anak kecil, balita sampai orang tua hampir minumnya es teh. Sampai bayi-bayi di sini aja tuh sudah diajarin minum es teh sama ibunya," jelas Yati, Warga.

Kekhawatiran muncul dari kalangan orang tua yang mencoba membatasi konsumsi gula pada anak. Rani (30) mengaku kesulitan melarang anaknya meminum es teh karena faktor lingkungan sosial dan keluarga yang sering memberikan minuman tersebut secara cuma-cuma.

"Dikasih sama orang, disodorin sama orang. Kita mau nolak 'jangan-jangan', entar dibilang belagu atau gimana," ungkap Rani, Orang tua.

Selain anak-anak, kelompok lansia dengan penyakit penyerta atau komorbid juga tercatat rutin mengonsumsi minuman manis ini. Juju (27) mengungkapkan keresahannya terhadap sang ayah yang tetap meminum es teh meski memiliki riwayat penyakit jantung dan kadar gula darah tinggi.

"Dia kan jantung ya, suka batuk terus juga gula darahnya suka tinggi tapi suka banget minum es teh manis, kan percuma berobat mahal-mahal," tutur Juju, Warga.

Juju mengakui bahwa ia sendiri sering tergoda untuk membeli minuman tersebut meskipun memahami risiko kesehatan jangka panjang yang mungkin terjadi. Ketersediaan pedagang yang masif di lingkungan rumah menjadi faktor penghambat untuk menghentikan kebiasaan tersebut.

"Kadang sengaja beli enggak ngitung bapak, tapi dia marah dan minta tetap minum," ungkap Juju, Warga.

Menanggapi tren ini, Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Pondok Indah, Liliana, menjelaskan bahwa cuaca panas dan lembap di Indonesia memicu keinginan konsumsi minuman dingin. Namun, ia memberikan catatan khusus mengenai keamanan konsumsi teh bagi kelompok usia tertentu.

"Kebiasaan minum air dingin (es) pun berlanjut dari generasi ke generasi," ujar Liliana, Dokter Spesialis Gizi Klinik.

Liliana memperingatkan bahwa lansia sebaiknya membatasi gula tambahan maksimal 50 gram per hari dan lebih disarankan mengonsumsi teh tawar hangat. Ia juga menekankan pentingnya bagi lansia untuk berkonsultasi dengan dokter terkait batas aman konsumsi guna menghindari gangguan ginjal.

"Walaupun demikian, metabolisme pada lansia cenderung menurun, sehingga dianjurkan mengonsumsi teh dalam bentuk teh tawar hangat dan dalam batas aman, yaitu satu cangkir teh hijau," jelas Liliana, Dokter Spesialis Gizi Klinik.

Terkait konsumsi pada anak di bawah 12 tahun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak menganjurkan pemberian teh. Kandungan kafein dan stimulan di dalamnya berisiko memicu hiperaktivitas, gangguan tidur, hingga gangguan penyerapan zat besi yang menyebabkan anemia.

"Oleh karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak menganjurkan konsumsi teh untuk anak di bawah 12 tahun," ucap Liliana, Dokter Spesialis Gizi Klinik.

Liliana juga menyoroti risiko kerusakan gigi dan obesitas akibat kelebihan kalori dari gula tambahan. Peningkatan keasaman di rongga mulut akibat kandungan gula menjadi ancaman nyata bagi kesehatan gigi anak-anak yang rutin mengonsumsi minuman manis.

"Kandungan gula juga dapat meningkatkan keasaman pada rongga mulut sehingga berisiko menyebabkan kerusakan pada gigi anak," tutur Liliana, Dokter Spesialis Gizi Klinik.

Artikel terkait

Rekomendasi