Warga Koja Sulap Lahan Terbengkalai Menjadi Kolam Ikan Produktif

Warga Koja Sulap Lahan Terbengkalai Menjadi Kolam Ikan Produktif
Foto: Ilustrasi Warga Koja Sulap Lahan Terbengkalai Menjadi Kolam Ikan Produktif.

Sebuah lahan terbengkalai di Gang Cemara Hijau, RW 01, yang sebelumnya kerap digunakan sebagai tempat penyalahgunaan narkoba kini telah berubah fungsi. Warga setempat sukses mengonversi area tersebut menjadi kawasan kolam ikan produktif.

Kawasan tersebut kini memiliki sekitar enam kolam ikan berukuran 4 x 6 meter. Kolam-kolam ini menampung ribuan ikan jenis lele, nila, serta mujair yang dikelola bersama oleh masyarakat sekitar, seperti dilansir dari Megapolitan.

Dari enam kolam yang tersedia, warga mampu memanen sekitar 50 hingga 100 kilogram (Kg) ikan setiap tiga bulan sekali.

"Dalam sekali panen dari satu siklus, biasanya mencapai sekitar 50 hingga 100 kilo," kata pengurus kolam ikan sekaligus Ketua RT 07, RW 01, Dani Arwanto (51), ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Selasa (19/5/2026).

Inisiatif masyarakat dalam memanfaatkan lahan tidur ini mendapat respons positif dari Guru Besar Bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho. Ia mengapresiasi langkah warga dalam menciptakan sumber pangan mandiri.

"Budidaya ikan ini bisa menjadi solusi ketahanan pangan warga masyarakat termasuk bisa jadi pendapatan baru masyarakat apalagi kalau dikoneksikan dengan program pemerintah dalam hal ini MBG (Makan Bergizi Gratis)," ucap dia ketika dihubungi Kompas.com, Selasa.

Integrasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat memperluas potensi keuntungan warga. Hal ini karena Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) membutuhkan pasokan protein seperti ikan, ayam, atau daging secara rutin setiap hari.

Melalui pasokan dari urban farming ini, SPPG dapat memperoleh kepastian stok tanpa khawatir kekurangan pasokan di pasar pangan. Di sisi lain, warga pembudidaya mendapat kepastian pasar tanpa perlu bingung memasarkan hasil panen mereka.

Meski demikian, pemilihan jenis komoditas ikan menjadi faktor penentu serapan pasar. Bayu menyarankan masyarakat untuk berfokus pada jenis ikan yang populer dikonsumsi seperti lele, mujair, patin, dan nila.

Tantangan Lingkungan di Pemukiman Padat

Walau potensial, Bayu mengingatkan bahwa menjalankan budidaya perikanan di tengah kepadatan kota Jakarta memiliki rintangan tersendiri. Karakteristik ideal bagi ikan adalah lingkungan yang sejuk dengan kualitas udara bersih.

Kondisi iklim mikro di area padat penduduk, yang mencakup fluktuasi suhu, kebersihan udara, dan mutu air, sering kali menjadi hambatan utama.

"Di kawasan padat, banyak bangunan beton dan aspal menyerap panas sehingga suhu sekitar kolam menjadi lebih tinggi," ujar Apri ketika dihubungi Selasa.

Peningkatan suhu ini berisiko membuat ikan peliharaan mengalami stres serta menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air. Tanpa pengawasan ketat, kondisi tersebut dapat memicu kematian massal ikan dan merusak siklus panen.

Faktor Cuaca Ekstrem dan Mikroorganisme

Anomali cuaca di Jakarta yang kerap berubah drastis dari panas menyengat ke hujan lebat turut menjadi tantangan. Hujan ekstrem berisiko meluap air kolam jika tidak diberi pelindung atas, sehingga ikan berpotensi hanyut terbawa arus air.

Kehilangan ikan akibat luapan air ini dipastikan memicu kerugian finansial bagi pengelola akibat gagal panen. Selain itu, tingkat kelembapan udara yang tinggi ikut memengaruhi pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan plankton.

Kehadiran mikroorganisme ini memengaruhi kualitas air kolam secara langsung. Dampak yang ditimbulkan bisa bersifat menguntungkan atau justru merugikan bagi kelangsungan hidup ikan, tergantung pada jenis mikroorganisme yang berkembang.

Masalah polusi udara perkotaan dari area pemukiman dan jalan raya juga dapat menurunkan kesehatan ikan. Pemasangan penutup di atas kolam menjadi salah satu opsi solusi untuk menghalau debu dan limpahan air hujan secara langsung.

Strategi Pengelolaan dan Penerapan CBIB

Keberhasilan budidaya di lahan sempit tetap dapat dicapai melalui efisiensi area kerja, pengondisian air yang stabil, manajemen pemberian pakan, serta pengawasan kesehatan ikan.

Beberapa metode teknis yang disarankan meliputi penerapan sistem bioflok, pengoptimalan aerasi, pengaturan padat tebar yang ideal, penggunaan pakan berkualitas, pengadopsian sistem akuaponik, hingga pemilihan jenis ikan yang memiliki daya adaptasi tinggi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Hasudungan Sidabalok, turut memberikan sejumlah panduan teknis bagi para pembudidaya di wilayah padat.

Langkah awal sebaiknya dimulai dari skala kecil terlebih dahulu sesuai ketersediaan lahan. Warga disarankan memilih jenis ikan tahan banting seperti lele atau nila yang memiliki masa pertumbuhan cepat serta toleran terhadap kepadatan tinggi.

Langkah wajib yang harus dijalankan pengelola meliputi pembersihan wadah, pengaturan pakan berkala, pemantauan kesehatan harian, penggantian air rutin, penggunaan benih unggul, serta karantina dini bagi ikan yang terindikasi sakit.

Sebaliknya, tindakan yang harus dihindari adalah pemberian pakan berlebih yang dapat mengotori kolam, pembiaran air keruh, kelebihan kapasitas tebar, penggunaan bahan kimia berbahaya, serta pembuangan limbah sisa budidaya langsung ke saluran umum.

"Hal ini dinilai sebagai langkah positif yang mendukung terwujudnya ketahanan pangan daerah serta peningkatan ekonomi keluarga melalui pemanfaatan ruang yang efisien," ungkap dia ketika dihubungi, Selasa.

Hasudungan mengharapkan pengelola kolam di Gang Cemara Hijau tetap konsisten menerapkan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) guna mencegah pencemaran lingkungan sekitar dan menjaga kualitas konsumsi ikan.

Dinas KPKP DKI Jakarta melalui jajaran suku dinas di tiap wilayah terus melakukan pendampingan serta memanfaatkan dana APBD untuk monitoring kesehatan lingkungan, termasuk pengujian sampel air dan ikan di laboratorium Pengujian Mutu PPISHP.

Artikel terkait

Rekomendasi