Dukuh Mao yang terletak di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menyimpan keunikan tersendiri selain namanya yang singkat. Dilansir dari Detik Travel, pemukiman ini dikenal karena tidak ada satu pun warga yang berani menanam pohon pisang di lahan mereka.
Keberadaan pohon pisang sangat mustahil ditemukan di pekarangan maupun area persawahan Dukuh Mao. Padahal, kondisi geografis wilayah ini sangat mendukung sektor pertanian dengan ketersediaan air yang melimpah sepanjang tahun.
Lokasi dukuh ini secara administratif terbagi menjadi dua wilayah, yakni Desa Jambeyan di Kecamatan Karanganom dan Desa Manjungan di Kecamatan Ngawen. Di sebelah barat pemukiman, terdapat sumber mata air Umbul Susuan dan Jolotundo yang mengairi sawah sekitar.
Masyarakat setempat memegang teguh pantangan untuk tidak menanam pohon pisang secara turun-temurun. Meskipun tidak ada aturan tertulis atau larangan resmi, rasa takut telah tertanam secara alami di benak warga Dukuh Mao.
"Di sini tidak ada pohon pisang, tidak ada yang berani nanam. Pokonya di kebun Mao tidak ada yang berani," ungkap warga Dukuh Mao, Siti Rahayu (80).
Siti menceritakan bahwa ketakutan tersebut sudah ada sejak lama dan warga merasa khawatir jika melanggar tradisi tersebut. Namun, ketakutan ini hanya terbatas pada tanaman pisang, sementara tanaman jenis lain tetap bebas ditanam oleh masyarakat.
"Tidak ada yang melarang tapi takut sendiri. Ya cuma pisang, lainnya tidak takut, sampai sekarang," kata Siti.
Dampak Bagi yang Melanggar
Mitos mengenai bahaya menanam pohon pisang di lokasi tersebut juga dipercayai oleh warga pendatang. Satori (55), warga yang tinggal di sana sejak 1995, menyebutkan pernah ada kejadian satu keluarga jatuh sakit setelah menanam pohon tersebut.
"Saya bukan asli sini tapi ikut takut. Kalau makan, goreng pisang tidak apa-apa sepuasnya asal tidak menanam di sini," kata Satori.
Pernyataan serupa disampaikan oleh Kadus I Desa Manjungan, Sugiartono, yang mengonfirmasi perilaku unik masyarakat ini. Menurutnya, larangan ini hanya berlaku untuk aktivitas menanam, sedangkan mengonsumsi buah pisang tetap diperbolehkan.
"Sejak nenek moyang tapi kalau makan pisang tidak apa-apa. Hanya menanam yang takut, tapi mungkin mitos," kata Sugiartono.
Asal-usul Nama dan Kaitan dengan Pewayangan
Terdapat dugaan bahwa mitos ini berkaitan dengan cerita pewayangan masa lampau yang berkembang di wilayah tersebut. Sugiartono menjelaskan adanya fragmen kisah tentang seorang putri dan pohon pisang yang menjadi dasar ketakutan warga.
"Cerita pewayangan ada putri tertancap sompil (keong runcing) lalu diambil ditancapkan ke pohon pisang. Tapi ada wewaler (larangan) apa kok kemudian pada tidak berani menanam pohon pisang, tidak ada yang tahu," papar Sugiartono.
Secara etimologi, nama Mao sendiri memiliki makna yang mendalam dalam tinjauan sejarah lokal Klaten. Pegiat sejarah, Hari Wahyudi, berpendapat bahwa nama tersebut kemungkinan besar berakar dari bahasa Jawa Kawi.
"Mao, Maung artinya harimau atau macan Jawa. Dalam bahasa Jawa kuno di kalangan epigraf Mao sering diartikan harimau atau macan Jawa atau Harimau. Mao sering disebut dalam prasasti-prasasti," jelas Hari.