Penduduk di kawasan Jalan H. Djairi, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, mengeluhkan layanan air perpipaan PAM Jaya yang mengalir keruh dan berbau busuk pada Selasa, 14 April 2026. Masalah kualitas air ini dilaporkan telah berlangsung selama puluhan tahun tanpa ada perbaikan menyeluruh dari pihak terkait.
Kondisi air yang tidak layak konsumsi tersebut menyerupai air selokan dan sering kali tidak mengalir pada siang hari. Keluhan mendalam dirasakan oleh warga yang tetap harus membayar tagihan meski air yang diterima tidak dapat digunakan untuk kebutuhan MCK, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Nurliana Sihombing, warga yang sudah berlangganan selama 25 tahun, memberikan kesaksian mengenai fluktuasi warna dan aroma air yang masuk ke rumahnya.
"Airnya kadang kayak susu, kadang kayak kopi warnanya, bau banget. Kayak bau got. Bahkan kadang hitam pekat atau berbusa," ungkap Nurliana.
Perempuan berusia 61 tahun tersebut merasa heran dengan penyebab buruknya kualitas air tersebut dan menduga adanya faktor lokasi pemukiman yang berdekatan dengan sungai.
"Enggak tahu apa yang salah ya, apa karena di dekat kali atau apa, tapi enggak pernah dibenerin," kata dia.
Kekecewaan senada juga dialami oleh Tikno yang merasa dirugikan secara finansial karena harus menggunakan pompa listrik untuk menarik air yang justru kotor.
"Wah, sudah dari dulu, sudah lama itu. Jadi PAM ini kalau kadang-kadang kita merasa rugi juga. Padahal PAM kita sedot pakai listrik. Nah itu baru bisa keluar, yang keluar malah air kotor," keluh Tikno.
Selain masalah kualitas fisik air, Nurliana menyoroti adanya pola waktu tertentu di mana air bersih baru bisa didapatkan pada dini hari.
"Herannya kita kenapa malam bagus banget airnya. Sekitar jam 01.00 sampai jam 04.30 WIB itu selalu bagus, setiap hari. Tapi kadang mau subuh itu juga udah bau airnya, sudah bau busuk," ucap Nurliana.
Harapan warga saat ini tertuju pada langkah konkret penyedia layanan agar fungsi air bersih benar-benar bisa dinikmati sesuai biaya yang mereka keluarkan.
"Ya, mudah-mudahan PAM itu dibenerin lah di mana. Maksudnya anehnya kan kenapa kayak ada waktu-waktunya gitu lho nyalanya, padahal kita kan pakainya bayar, di situ saja kita heran," ujar Nurliana.
Ketua RT setempat, Eka, juga menceritakan insiden saat toren air miliknya penuh dengan air hitam pekat layaknya lumpur selokan saat pengisian malam hari.
"Itu tengah malam buka kran biar nampung di toren, eh pas dibuka, Ya Allah kok hitam, bau got. Mana hampir penuh itu, tingginya seleher saya, masa mau dikuras, gimana? Padahal udah kehitung di meteran itu airnya," ujarnya kesal.
Menurutnya, air sering terlihat jernih pada awalnya namun berubah keruh di tengah proses penampungan sehingga merusak seluruh cadangan air bersih.
"Pas nyolokin, hidupinnya, dapet seember dua ember bagus kan airnya. Ke sananya giliran lagi ditampung, entar tahu-tahu airnya sudah kecampur sama yang kotor, jadi bau semua gitu," jelasnya.
Upaya pelaporan telah sering dilakukan oleh warga kepada petugas lapangan, namun solusi permanen belum kunjung terealisasi hingga saat ini.
"Ditanya kenapa alasannya, 'Mungkin ada kebocoran pas betulin jalan atau bagaimana' begitu jawabannya. Tapi sampai sekarang enggak benar-benar. Cuma sering dikontrol di depan sana tuh, sering dibongkar-bongkar tapi tetap saja masih (kotor)," ungkap Eka.
Hingga saat ini, pihak PAM Jaya melalui Senior Manager Corporate & Customer Communication belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kendala teknis di wilayah Rawa Buaya tersebut.