Warga Cengkareng Barat Keluhkan Genangan Air Limbah Berbau Busuk

Warga Cengkareng Barat Keluhkan Genangan Air Limbah Berbau Busuk
Foto: Ilustrasi Warga Cengkareng Barat Keluhkan Genangan Air Limbah Berbau Busuk.

Permukiman warga di RT 03 RW 06, Cengkareng Barat, Jakarta Barat, masih terendam genangan air berwarna hitam pekat dan berbau busuk. Kondisi yang memprihatinkan ini dilaporkan telah berlangsung selama lebih dari satu bulan tanpa ada tanda-tanda surut.

Masalah ini muncul sebagai imbas dari proyek pembangunan pintu air di aliran Kali Apuran. Berdasarkan pantauan lapangan yang dikutip dari Megapolitan, lahan kosong di sekitar rumah penduduk kini berubah menjadi genangan air limbah yang tidak mengalir.

Area yang dulunya merupakan tanah kering kini dipenuhi air bercampur sampah plastik dan limbah rumah tangga. Bangunan kayu yang berfungsi sebagai kandang hewan ternak tampak terendam, sementara berbagai perabot rumah tangga milik warga dibiarkan terbengkalai dalam kondisi rusak.

Air yang menggenang statis tersebut kini menjadi sarang perkembangbiakan jentik nyamuk dan memicu kekhawatiran penyebaran penyakit. Situasi ini diperparah dengan adanya pembendungan aliran kali menggunakan turap baja dan karung pasir di lokasi proyek Jalan Outer Ring Road.

Lia (41), salah seorang warga setempat, menjelaskan bahwa genangan tersebut sudah terjadi sejak awal April 2026. Meskipun pompa air dari Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Barat telah dikerahkan, hasilnya belum efektif karena air kembali masuk ke permukiman.

"Sudah sebulan masih kayak begini. Udah disedot nanti airnya balik lagi. Karena kan dia air dari sini disedot, dibuang ke kali, di ujungnya itu tetep dibendung. Akhirnya tetep airnya balik lagi. Kalau mesin mati, air membalik lagi ke kita," kata Lia.

Ketinggian air di dalam rumah warga sempat mencapai 60 cm, yang mengakibatkan kerusakan harta benda dan kerugian ekonomi. Ayah Lia yang bekerja sebagai petani harus merelakan tanaman timun suri, singkong, dan buah-buahannya mati karena terendam air.

"Sehari-harinya engkong itu kan bertani. Kalau sekarang ini enggak bisa lagi menanam timun suri pun hancur enggak bisa panen karena kan udah kerendem. Nanam singkong pun mati. Pohon-pohonan semua, pisang, buah-buahan jadi layu udah enggak ada yang bisa dipanen," keluh Lia.

Dampak kesehatan juga mulai dirasakan oleh warga lanjut usia di wilayah tersebut. Syarif (68) mengaku sangat tersiksa karena harus menghirup aroma tidak sedap setiap hari yang membuatnya jatuh sakit.

"Terganggu lah, bau penyakit. Air ini emang bau penyakit. Batuk, saya batuk melulu nih sebulan enggak sembuh-sembuh," ucap Syarif.

Syarif menambahkan bahwa lahan kosong di samping rumahnya kini menyerupai danau sehingga hewan ternak tidak bisa lagi mencari rumput. Ketua RW 06, Suroto, membenarkan bahwa air got warga tidak dapat mengalir ke kali akibat adanya bendungan proyek.

"Karena ada pekerjaan, mau enggak mau dibendung. Tapi bendungan ini mengakibatkan air itu ngenang. Sudah seminggu ini sudah dilakukan (pompa) dengan baik. Tapi ya dia boros solar kan, paling nyala dua jam terus istirahat dulu, enggak terus-terusan," tutur Suroto.

Suroto menegaskan bahwa warga mendukung pembangunan pintu air yang ditargetkan selesai pada Oktober 2026. Namun, ia berharap pengerjaan proyek tersebut tidak merugikan masyarakat sekitar, terutama terkait risiko penyakit.

"Intinya sebenarnya warga itu semuanya mendukung program pemerintah, tapi jangan sampai dampak negatifnya mempengaruhi warga dan membuat kebanjiran gitu," tuturnya.

Hingga saat ini, pihak terkait dari Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Barat belum memberikan pernyataan resmi mengenai langkah tindak lanjut atas keluhan warga tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi