Warga Sekip Bogor Swadaya Perbaiki Jalan Alternatif Cipaku Lawanggintung

Warga Sekip Bogor Swadaya Perbaiki Jalan Alternatif Cipaku Lawanggintung
Foto: Ilustrasi Warga Sekip Bogor Swadaya Perbaiki Jalan Alternatif Cipaku Lawanggintung.

Masyarakat di sekitar Jalan Sekip melakukan perbaikan mandiri pada jalur alternatif Cipaku-Lawanggintung, Kota Bogor, menggunakan dana swadaya dan sumbangan pengendara motor pada Rabu (13/5/2026). Langkah ini diambil guna menjaga kelayakan akses setelah penutupan Jalan Saleh Danasasmita akibat risiko longsor sejak Januari 2026.

Jalur penghubung ini menjadi tumpuan bagi mobilitas warga yang beralih rute, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Koordinator jalan alternatif, Nawi, mengungkapkan bahwa setiap harinya terdapat sekitar 130 sepeda motor yang melintasi jalur tersebut dalam rentang operasional pukul 05.00 WIB hingga 21.00 WIB.

Data operasional menunjukkan sekitar 70 hingga 80 pemotor bergerak dari arah Lawanggintung menuju Cipaku, sementara 50 sisanya melintas dari arah sebaliknya. Nawi menyebut jalur ini awalnya hanya digunakan warga lokal, namun kepentingannya meningkat drastis setelah penutupan jalan utama di Batutulis.

"Pihak kelurahan langsung nelfon saya, minta koordinasi karena udah banyak yang tahu jalur ini. Makanya ini termasuk jalur alternatif prioritas kemarin karena tadinya buat warga-warga doang ternyata bermanfaat buat orang-orang gitu," kata Nawi saat ditemui Kompas.com di Jalan Sekip, Kota Bogor, Rabu (13/5/2026).

Kondisi jalan yang amblas akibat intensitas hujan tinggi dan peningkatan volume kendaraan memaksa warga melakukan perbaikan intensif selama dua hari sejak Selasa (12/5/2026). Proses pemulihan dilakukan dengan menutup lubang menggunakan puing sebelum dilapisi semen pada area sepanjang lima hingga enam meter.

"Jadi amblas perbaikan kita udah selesai sama warga setelah hari ini dari dana orang-orang yang melintas sama dari sebagian dari warga juga," ujar Nawi.

Anggaran yang dialokasikan untuk perbaikan titik amblas dan lubang jalan tersebut mencapai sekitar Rp1,3 juta. Warga berencana melanjutkan pengerjaan dengan pelapisan aspal pada malam hari guna memastikan permukaan jalan tidak licin saat dilintasi pengendara.

"Untuk segitu aja tadi saya anggarin hampir sekitar Rp 1,3 juta. Iya Itu kan yang diperbaikin. Itu hampir sekitar 5-6 meter kali ya, sama semuanya sih ada yang bolong-bolong juga kita perbaiki lagi juga," kata Nawi.

Masyarakat mengandalkan perolehan dana harian dari sumbangan sukarela pengguna jalan yang angkanya bisa menyentuh Rp900.000 per hari. Uang tersebut digunakan untuk biaya perawatan infrastruktur jalan serta diberikan sebagai uang lelah bagi para relawan yang berjaga di lokasi.

"Nanti malam diaspal. Jadi abis ditutup semen kita aspal karena biar enggak licin. Tadi kan ada biaya dari pemotor lewat sama dari sebagian masyarakat itu," sambung Nawi.

Petugas di lapangan terdiri dari 35 orang yang terbagi dalam beberapa posisi tanpa sistem giliran kerja atau shift. Setiap relawan mendapatkan kompensasi sekitar Rp25.000 dari hasil pembagian dana yang masuk, sementara sisanya disimpan dalam kas untuk keperluan pemeliharaan rutin mingguan.

"Enggak banyak sih sebenernya paling masih terbilang relatif lah, cukup lah buat kita ngasih relawan yang jaga sama buat perbaikan jalan perlunya, kurang lebih sampe Rp 900 ribuan itu perharian," jelas Nawi.

Sebanyak delapan warga ditempatkan secara merata di kedua ujung jalur dengan bantuan perangkat Handy Talky (HT) untuk mengatur arus kendaraan. Sisanya bertugas sebagai tim pendorong di area turunan curam untuk membantu pengendara yang mengalami kendala teknis atau tidak kuat menanjak.

"Kita biasanya langsung dibagiin. Jadi biar ketahuan sisanya berapa buat dijadiin uang kas buat perbaikan jalan. Jadi kadang kalau misalnya paling besar itu ya Rp 25.000 lah," tambah Nawi.

Mengingat kontur jalan yang berbahaya, warga sering kali harus melakukan tindakan darurat saat terjadi rem blong. Penjaga jalur biasanya bersiaga menahan laju sepeda motor secara manual menggunakan fisik mereka untuk mencegah kecelakaan fatal.

"Langsung kita kan pasti sigap orang-orangnya banyak. Gini yang di atas teriak rem blong di bawah udah-udah siap, udah langsung lari," jelas Nawi.

Teknis pengamanan motor yang kehilangan kendali melibatkan tiga orang relawan sekaligus. Dua orang bertugas menahan bagian depan setang, sementara satu orang lainnya menahan bagian belakang motor agar kendaraan dapat berhenti total.

"Ditahan sama anak-anak, biasanya tiga orang sih. Dua megang nahan yang satu lagi lari ke belakang nahan behel belakang motornya. Biasanya kayak gitu. Itu kan pasti keras banget tapi itu masih yang bisa ketahan lah biasanya," ujar Nawi.

Keterlibatan masyarakat dalam menjaga jalur alternatif ini didasari oleh rasa solidaritas antarwarga desa. Salah satu warga, Deni, tetap ikut serta membantu perbaikan dan penjagaan jalan meski dirinya baru selesai bekerja berdagang pada larut malam.

"Ya namanya juga di kampung sendiri, ngebantu orang lah," ungkap Deni kepada Kompas.com.

Deni menegaskan bahwa setiap penjaga memiliki tanggung jawab moral untuk merawat kondisi jalan demi keselamatan bersama. Ia menganggap partisipasi dalam perbaikan jalan adalah bagian tak terpisahkan dari tugas menjaga keamanan wilayah tersebut.

"Namanya jaga ya masa ikut jaganya doang enggak mau ikut bantu-bantunya," jelas Deni.

Artikel terkait

Rekomendasi