Seorang wanita asal Belanda bernama Joke berjuang memulihkan kondisi fisiknya setelah menjadi korban kekerasan dalam hubungan yang mengakibatkan hampir 90 persen tubuhnya dipenuhi tato paksaan. Berdasarkan informasi yang dihimpun pada Jumat, 17 April 2026, korban dipaksa oleh mantan kekasihnya untuk merajah lebih dari 250 tato, mayoritas berupa nama pelaku, di sekujur tubuh hingga wajah.
Aksi keji ini dilakukan pelaku dengan menggunakan mesin tato murah yang dibeli secara daring. Dilansir dari Wolipop, tindakan tersebut merupakan bentuk kontrol ekstrem yang dilakukan pelaku terhadap Joke selama bertahun-tahun hubungan mereka berlangsung.
Andy Han dari organisasi Spijt van Tattoo memberikan penjelasan mengenai motif di balik tindakan pelaku yang menyasar bagian tubuh tertentu secara spesifik. Penempatan tato tersebut dianggap sebagai simbol klaim kepemilikan atas diri korban.
"Itu adalah tanda kontrol dan kepemilikan. Banyak tato ditempatkan di area yang dia pikir pernah disentuh pria lain, seperti payudara dan bokong," ujar Andy Han, perwakilan Spijt van Tattoo.
Andy juga menekankan bahwa penempatan tato di area sensitif wajah menunjukkan tidak adanya unsur kesukarelaan dari pihak korban. Hal ini memperkuat indikasi adanya tekanan hebat selama proses pembuatan tato tersebut.
"Siapa pun yang berpikir jernih tahu seseorang tidak akan secara sukarela membuat tato di dekat mata, di hidung, atau di telinga," tambah Andy.
Kondisi Joke saat ini dilaporkan mulai membaik setelah menjalani serangkaian prosedur penghapusan tinta di bagian wajah. Foto terbaru dari kampanye penggalangan dana menunjukkan kemajuan signifikan pada area wajah yang sebelumnya tertutup nama pelaku.
"Sebagian besar tato Joke telah dihapus, terutama di bagian wajah," tulis pihak penggalangan dana.
Pihak organisasi pendamping mengungkapkan bahwa Joke sempat mengalami tekanan mental hebat akibat teror berkelanjutan dari mantan kekasihnya setelah mereka berpisah. Kondisi tersebut sempat membuat korban kehilangan kemampuan untuk membela diri karena pengaruh zat tertentu.
"Ia mulai menguntit, mengancam, dan mengintimidasi Joke hingga ia 'mematikan rasa' dengan alkohol dan obat-obatan, yang akhirnya membuatnya tidak mampu membela diri," ungkap pihak organisasi.
Joke menegaskan bahwa dirinya telah melaporkan kejadian ini kepada kepolisian Belanda, meski hingga kini otoritas setempat belum melakukan penangkapan terhadap pelaku. Kini, ia berupaya memberikan motivasi bagi penyintas kekerasan lainnya untuk berani bangkit dari keterpurukan.
"Seseorang yang pernah terluka dalam bisa bangkit kembali. Jika saya bisa, orang lain juga bisa," ujar Joke.