Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono mendorong penguatan sistem peringatan dini berbasis data terpadu untuk mengatasi masalah polusi udara yang kian mengkhawatirkan. Langkah tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional yang digelar Universitas Indonesia (UI) dan RCCC UI di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Senin (18/5), seperti dilansir dari Medcom.
Dante mengajak publik untuk lebih peka terhadap realitas pencemaran udara harian, khususnya di wilayah Jabodetabek. Menurutnya, polusi sering kali tersamarkan dalam bentuk kabut abu-abu yang menghalangi pandangan ke area pegunungan pada hari-hari biasa.
ÔÇ£Pernah tidak, ketika malam hujan deras lalu keesokan paginya cerah dan tidak ada awan, kita bisa melihat Gunung Salak dan Gunung Gede dengan jelas? Tapi di hari-hari biasa gunung itu tidak terlihat karena tertutup kabut abu-abu. Kabut itulah polusi udara yang ada di sekitar kita setiap hari,ÔÇØ ujar Dante.
Ancaman kesehatan serius dari udara yang tercemar ini berdampak nyata pada seluruh kelompok usia. Berdasarkan data WHO, sembilan dari sepuluh orang di dunia kini hidup di wilayah dengan kualitas udara yang buruk.
ÔÇ£Anak-anak berisiko terkena pneumonia hingga gangguan tumbuh kembang. Lansia menghadapi risiko penurunan fungsi organ. Pasien penyakit kronis rentan mengalami perburukan dan komplikasi. Dan para pekerja di luar ruangan terancam penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK,ÔÇØ jelas Dante.
Kementerian Kesehatan terus berupaya memperkuat transformasi kesehatan dari aspek promotif, preventif, hingga kesiapan fasilitas layanan kesehatan. Kendati demikian, belum adanya integrasi data langsung antara kualitas udara dan dampak kesehatan menjadi tantangan terbesar saat ini.
ÔÇ£Celah inilah yang menjadi peluang kita untuk sama-sama memperkuat sistem peringatan dini melalui integrasi data yang kuat,ÔÇØ kata Dante.
Melalui perumusan kebijakan di seminar nasional ini, pengembangan sistem peringatan dini diharapkan bisa lebih responsif dan berorientasi jangka panjang.
ÔÇ£Melalui sistem peringatan dini yang baik, kita dapat merespons risiko polusi udara lebih cepat dan tepat serta melindungi kelompok rentan. Demi mewujudkan Indonesia yang tidak hanya maju dan mandiri, tetapi juga sehat dan lestari,ÔÇØ tutur Dante.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati menekankan perlunya keseimbangan antara kesehatan manusia dan keberlanjutan ekosistem. Kondisi lingkungan saat ini dinilai tidak lagi bisa dipisahkan dari isu kesehatan global.
ÔÇ£Semoga acara ini bisa berjalan lancar, memberikan manfaat, dan menjadi ruang untuk mencari ilmu bersama,ÔÇØ ujar Indri saat membuka seminar secara resmi.
Acara ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor yang dihadiri oleh perwakilan kementerian, lembaga, akademisi, peneliti, pemerintah daerah, serta pegiat lingkungan dan kesehatan dari Jabodetabek.