Layanan fertilitas dinilai sudah sepatutnya berjalan bersamaan dengan empati yang tinggi demi mendukung perjuangan pasangan yang mengalami gangguan kesuburan. Hal tersebut dilansir dari Medcom, menjadi penekanan Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, saat menghadiri acara re-launching Klinik Yasmin Reproductive Cluster di RSCM Kencana, Jakarta, pada Selasa kemarin.
Bagi pasangan pejuang garis dua, perjalanan menuju kehamilan bukan sekadar upaya medis biasa, melainkan perjuangan hati untuk terus merawat harapan.
ÔÇ£Pernahkah kita membayangkan betapa beratnya perjalanan sepasang suami istri yang datang ke klinik fertilitas? Mereka datang bukan untuk berobat dari sakit fisik, tetapi memperjuangkan sebuah kehidupan yang belum hadir. Di sinilah layanan fertilitas berbeda; yang kita rawat bukan hanya tubuh, tetapi juga jiwa dan harapan,ÔÇØ ujar Wamenkes Dante saat menyampaikan sambutan.
Harapan yang diperjuangkan pasangan subur tersebut sejalan dengan besarnya tantangan masalah infertilitas saat ini. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2025, sekitar 17,5% populasi dewasa atau 1 dari 6 orang di dunia mengalami infertilitas.
Kementerian Kesehatan mencatat angka infertilitas di Indonesia dialami oleh 10-15% pasangan usia subur. Hal ini berarti ada sekitar 4 hingga 6 juta dari total 39,8 juta pasangan usia subur di Tanah Air yang memerlukan intervensi medis demi mendapatkan keturunan.
Tantangan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah, terlebih Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate/TFR) di Indonesia berada di angka 2,14 anak per perempuan pada tahun 2023 berdasarkan data BKKBN.
Wamenkes Dante menambahkan, angka fertilitas total ini perlu dijaga demi mempersiapkan generasi masa depan yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
"Kalau nanti generasi ini pertumbuhannya bagus, maka kita akan punya usia produktif yang bagus di tahun 2045 yang disebut sebagai masa Indonesia Emas. Ini harus dijaga kualitasnya," tambah Wamenkes Dante.
Di sisi lain, respons masyarakat terhadap layanan Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) atau bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) terus mengalami kenaikan pesat. Jumlah pasien secara nasional meningkat signifikan dari 23 ribu pasien pada 2021 menjadi 36 ribu pasien pada 2024.
Saat ini, Indonesia telah memiliki 59 rumah sakit di 15 provinsi yang mengantongi izin layanan IVF, dengan RSCM sebagai salah satu pelopornya melalui Klinik Yasmin.
Klinik Reproductive Cluster tersebut menyediakan delapan layanan utama, meliputi infertilitas dan bayi tabung (Yasmin IVF), gangguan haid, endometriosis, sindrom ovarium polikistik (PCOS), keguguran berulang, ginekologi remaja, menopause, hingga preservasi fertilitas.
Sepanjang tahun 2025, Klinik Yasmin mencatat telah berhasil membukukan 95 kehamilan dari 221 siklus program yang dijalankan. Layanan ini diperkuat oleh tenaga medis di bidang obstetri, ginekologi, serta andrologi, termasuk para guru besar dengan pengalaman klinis luas.
Pengembangan layanan juga dilakukan melalui pendampingan pasien oleh konselor perawat selama proses stimulasi, sistem satu pasien satu perawat, kolaborasi dengan layanan akupunktur, pengembangan layanan endometriosis dan PCOS, serta pembentukan pusat layanan keguguran berulang.
Melalui peluncuran kembali ini, RSCM Kencana diharapkan dapat menghadirkan layanan fertilitas yang lebih dekat, humanis, dan berbasis teknologi modern bagi masyarakat Indonesia, sehingga mampu membantu lebih banyak pasangan mendapatkan penanganan yang menyeluruh dan berkelanjutan.