Wabah virus Hanta menyerang kapal pesiar mewah MV Hondius yang sedang berada di lepas pantai Tanjung Verde dengan membawa total 149 orang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa para penumpang saat ini terjebak di dalam kapal tersebut untuk menjalani prosedur isolasi.
Hingga tanggal 4 Mei, otoritas kesehatan mengidentifikasi tujuh kasus yang terdiri dari dua kasus terkonfirmasi laboratorium dan lima kasus suspek. Insiden ini mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, satu pasien dalam kondisi kritis, serta tiga orang lainnya mengalami gejala ringan sebagaimana dilansir dari Detik Health.
Ratusan penumpang kini masih tertahan di atas kapal sembari menunggu proses evakuasi lebih lanjut. Virus Hanta sendiri merupakan patogen serius yang menular melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus dan mencit, terutama lewat paparan urine, kotoran, dan air liur hewan tersebut.
Penyakit ini dapat bermanifestasi menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dengan gejala awal berupa kelelahan, demam, dan nyeri otot. Pada fase lanjut, penderita akan mengalami sesak napas akut karena paru-paru terisi cairan yang membutuhkan tindakan medis intensif seperti intubasi.
Selain HPS, virus ini juga memicu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menargetkan organ ginjal. Gejala HFRS meliputi sakit kepala hebat, pendarahan internal, hingga gagal ginjal akut yang memerlukan prosedur dialisis untuk membuang racun dari dalam darah pasien.
Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan area yang terpapar tikus guna mencegah penularan. Hingga saat ini, belum ada pengobatan khusus untuk infeksi virus Hanta selain perawatan suportif berupa hidrasi dan istirahat total.