Sebanyak tiga orang meninggal dunia akibat wabah mematikan Virus Andes yang menyerang kapal pesiar MV Hondius saat berlayar dari Argentina menuju Tanjung Verde di Samudra Atlantik.
Dilansir dari Media Indonesia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 11 orang telah terinfeksi dalam manifes kapal tersebut, yang diduga dipicu oleh kontaminasi tikus melalui rantai logistik.
Sebanyak 18 penumpang asal Amerika Serikat yang sempat berada di dalam kapal hingga 10 Mei 2026 kini harus menjalani masa isolasi ketat.
Proses karantina bertempat di University of Nebraska Medical Center selama 42 hari, mengacu pada batas maksimal masa inkubasi hantavirus varian Amerika Selatan ini.
Pihak otoritas kesehatan mengonfirmasi bahwa Virus Andes merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang memiliki kemampuan menular antarmanusia melalui kontak sekresi tubuh.
Gejala awal infeksi meliputi demam, kelelahan, serta nyeri otot, yang dapat memburuk menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau kondisi paru-paru terisi cairan.
Peneliti BRIN memperingatkan bahwa tingkat kematian akibat Hantavirus Pulmonary Syndrome dapat mencapai 35 persen.
Di sisi lain, epidemiolog Dicky Budiman juga mengingatkan risiko kematian akibat virus hanta ini bahkan dapat menyentuh angka 40 persen.
Pakar pencegahan infeksi dari UW Health memberikan penjelasan mengenai alasan penerapan durasi karantina yang mencapai enam minggu tersebut.
"Virus Andes memiliki jendela waktu inkubasi antara 4 hingga 42 hari sebelum gejala muncul," jelas Dan Shirley, pakar pencegahan infeksi dari UW Health.
Menurutnya, virus ini bereplikasi secara lambat pada sel endotel pembuluh darah di tahap awal, sehingga isolasi dini sangat krusial dilakukan sebelum kondisi pasien memburuk.
Meskipun memiliki fatalitas tinggi, tim medis menyatakan bahwa ancaman penyebaran ke masyarakat luas masih terkendali.
"Paparan ini sangat terlokalisasi pada satu kapal pesiar dan semua individu yang berisiko telah diidentifikasi," kata Luis Ostrosky, kepala penyakit menular di UTHealth Houston.
Hingga saat ini, belum ditemukan adanya laporan kasus tambahan infeksi Virus Andes yang menyebar di wilayah daratan.