Kapal pesiar MV Hondius yang mengangkut 150 penumpang dari 23 negara dilanda wabah Hantavirus dalam rute pelayaran dari Argentina menuju Afrika. Insiden yang dikonfirmasi pada Mei 2026 ini mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan memicu karantina ketat saat kapal menuju Kepulauan Canary.
Krisis kesehatan ini bermula sejak April saat kapal menempuh perjalanan dari Ushuaia menuju Cape Verde. Dilansir dari Tekno, korban jiwa terdiri dari pasangan suami istri asal Belanda serta seorang wanita berkebangsaan Jerman, sementara beberapa penumpang lain termasuk dokter kapal dilaporkan mengalami gejala serupa.
Jake Rosmarin, seorang blogger asal Boston, Amerika Serikat, mengungkapkan kegelisahan para penumpang melalui platform media sosial di tengah ketidakpastian nasib mereka. Melalui unggahan pada 5 Mei 2026, ia menekankan sisi kemanusiaan dari para penumpang yang terdampak.
"Kami bukan sekadar cerita. Kami bukan hanya judul berita, kami adalah manusia, orang-orang dengan keluarga, dengan kehidupan, dengan orang-orang yang menunggu kami di rumah" kata Rosmarin.
Rosmarin menjelaskan bahwa kondisi emosional para penumpang sangat teruji karena minimnya informasi pasti mengenai jadwal kepulangan mereka. Beban mental tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh individu di atas kapal.
"Ada banyak sekali ketidakpastian dan itu menjadi bagian yang paling berat," imbuh Rosmarin.
Meskipun dalam situasi sulit, Rosmarin tetap mengapresiasi upaya maksimal yang dilakukan oleh kru kapal dalam mengelola krisis kesehatan global ini. Ia menyatakan rasa syukur atas dedikasi tim medis dan operasional di lapangan.
"Selain dua penumpang (terdampak) yang telah diumumkan dan sekarang telah dievakuasi Semua orang lain di dalam kapal dalam keadaan baik dan tetap bersemangat," ungkap Rosmarin.
Penumpang lain, Kasem Hato, memberikan kesaksian mengenai protokol ketat yang diterapkan di dalam kapal pesiar tersebut. Ia menyebutkan bahwa seluruh awak kapal secara rutin memberikan informasi terbaru serta mewajibkan penggunaan masker dan pembersih tangan.
"Orang-orang menanggapi situasi ini dengan serius tetapi tanpa kepanikan, mencoba menjaga jarak dan memakai masker demi keselamatan," ujar Hato.
Hato menambahkan bahwa aktivitas harian tetap berjalan untuk menjaga kesehatan mental para penumpang sembari menunggu keputusan dari otoritas kesehatan internasional. Mereka mengisi waktu dengan kegiatan ringan guna mempertahankan moral tetap tinggi.
"Sehari-hari kami hampir normal, hanya menunggu pihak berwenang menemukan solusi. Namun moral di kapal tetap tinggi dan kami tetap sibuk membaca, menonton film, minum minuman hangat, dan hal-hal seperti itu," tambah Hato.
Berdasarkan data medis, kasus pertama muncul pada 6 April saat seorang pria Belanda berusia 70 tahun mengalami demam dan sesak napas sebelum meninggal pada 11 April. Istrinya kemudian menyusul wafat pada 26 April setelah jatuh pingsan di Bandara Johannesburg saat proses pemulangan jenazah suaminya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa Hantavirus umumnya ditularkan melalui hewan pengerat, baik melalui kontak langsung maupun cairan tubuh. Investigasi saat ini tengah difokuskan pada sumber awal infeksi setelah kapal sempat tertahan di Praia, Cape Verde, pada 4 Mei 2026.
Saat ini kapal yang dikelola Oceanwide Expeditions tersebut dijadwalkan bersandar di Pelabuhan Tenerife, Spanyol. Menteri Kesehatan Spanyol Monica Garcia menyatakan bahwa penumpang sehat non-warga negara Spanyol akan segera dipulangkan, sementara warga Spanyol akan menjalani karantina di rumah sakit militer Madrid.