Wabah Ebola Varian Bundibugyo Meluas di Republik Demokratik Kongo

Wabah Ebola Varian Bundibugyo Meluas di Republik Demokratik Kongo
Foto: Ilustrasi Wabah Ebola Varian Bundibugyo Meluas di Republik Demokratik Kongo.

Wabah Ebola ke-17 meluas di wilayah timur Republik Demokratik Kongo hingga memicu krisis kesehatan hebat akibat penolakan masyarakat dan ketiadaan vaksin khusus pada 24 Mei 2026.

Kondisi kritis ini mendorong Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan status darurat kesehatan internasional setelah virus menyebar lintas batas hingga mencapai negara Uganda.

Penyakit mematikan ini dilaporkan telah merenggut sedikitnya 204 korban jiwa di seluruh negeri, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.

Wilayah Mongbwalu di Provinsi Ituri menjadi pusat penyebaran dengan temuan 322 orang suspek infeksi dan 88 kasus kematian di antaranya.

Otoritas kesehatan mengonfirmasi bahwa epidemi kali ini dipicu oleh virus strain Bundibugyo yang belum memiliki vaksin atau pengobatan spesifik, tidak seperti strain Zaire.

Krisis diperparah oleh rusaknya peti mati berisi jenazah korban dari Bunia dalam perjalanan darat sejauh 80 kilometer menuju Mongbwalu, sehingga memicu paparan virus ke lingkungan terbuka.

Ketidakpercayaan publik menguat setelah tes awal di laboratorium provinsi gagal mendeteksi Ebola, sebelum akhirnya sampel dikirim ke laboratorium biomedis di Kinshasa yang berjarak 1.800 kilometer.

Di tengah kepanikan tersebut, segelintir warga mendesak adanya langkah konkret dari otoritas terkait demi menyelamatkan nyawa penduduk setempat.

"Pemerintah harus membawakan kami vaksin," ujarnya kepada AFP Laureine Sakiya, warga Mongbwalu.

Desakan medis tersebut muncul seiring keterbatasan fasilitas sanitasi dasar di rumah sakit lokal Mongbwalu meskipun petugas kesehatan telah memakai pakaian pelindung lengkap.

Lembaga bantuan internasional Doctors Without Borders atau MSF turut mendirikan tenda isolasi, tetapi mobilitas tinggi penambang emas dan pedagang mempersulit pelacakan kontak.

Penolakan sebagian masyarakat terhadap keberadaan virus medis ini memicu kekhawatiran dari perwakilan penyembuh tradisional setempat mengenai potensi keterlambatan penanganan.

"Saya khawatir dengan mereka yang mengatakan penyakit ini diciptakan. Kita semua harus mengambil tindakan pencegahan sebelum terlambat," tegas Adam Hussein, perwakilan penyembuh tradisional di Mongbwalu.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC Amerika Serikat telah resmi melarang masuk warga asing dari Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan selama 30 hari guna mencegah penularan global.

Artikel terkait

Rekomendasi