Wabah Ebola Strain Bundibugyo Meluas di RD Kongo dan Uganda

Wabah Ebola Strain Bundibugyo Meluas di RD Kongo dan Uganda
Foto: Ilustrasi Wabah Ebola Strain Bundibugyo Meluas di RD Kongo dan Uganda.

Republik Demokratik Kongo menghadapi lonjakan kasus suspek virus Ebola strain Bundibugyo sebanyak 543 orang dengan 136 korban jiwa akibat penyebaran epidemi yang meluas hingga ke Uganda. Dilansir dari Detik Health, sebanyak 32 kasus telah terkonfirmasi positif terinfeksi jenis virus yang belum memiliki terapi khusus maupun vaksin resmi tersebut.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam karena asal-usul dari ledakan kasus ini belum dapat diidentifikasi secara pasti.

Pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Bunia, Adelheid Marschang Ancia, menjelaskan bahwa otoritas kesehatan setempat masih menemui kendala dalam melacak pasien pertama yang menjadi sumber penularan.

"Yang kami ketahui saat ini adalah pada 5 Mei ada seseorang yang meninggal di Bunia," ujarnya.

Prosesi pemakaman jenazah tersebut yang kemudian dipindahkan ke Mongbwalu diduga kuat menjadi titik awal terjadinya paparan dan memicu rantai penularan yang lebih besar.

Kondisi ini diperkuat oleh pernyataan dari pihak Africa Centers for Disease Control and Prevention (Africa CDC) mengenai belum ditemukannya kasus indeks epidemi tersebut.

"Wabah ini dimulai pada April. Sampai sekarang kami belum mengetahui kasus indeksnya. Itu berarti kami belum tahu seberapa besar skala wabah ini," kata Kaseya pada 16 Mei, dikutip dari Xinhua, Selasa (20/5).

Berdasarkan hasil pemetaan genetik, virus yang saat ini menginfeksi warga terindikasi murni berasal dari wilayah hutan melalui kontaminasi baru alam liar, bukan akibat dari aktifnya kembali rantai virus lama.

Direktur Jenderal National Institute of Biomedical Research, Jean-Jacques Muyembe, memaparkan bahwa pemetaan genom menunjukkan adanya perbedaan varian virus yang beredar sekarang dengan varian terdahulu.

Ia menambahkan bahwa penggunaan vaksin Ervebo untuk strain Zaire saat ini sedang dikaji guna melihat potensi perlindungan silang terhadap strain Bundibugyo.

"Pada saat epidemi berakhir, mungkin kita baru menemukan vaksinnya," ujarnya.

Kendala penanganan wabah ini juga diperparah oleh situasi konflik bersenjata di wilayah timur RD Kongo, khususnya di Goma yang saat ini dikuasai oleh kelompok pemberontak March 23 Movement (M23) sejak awal 2025.

Juru bicara pemerintah, Patrick Muyaya, mengonfirmasi bahwa pendudukan kota Goma oleh pemberontak tersebut melumpuhkan aktivitas pengawasan epidemiologi, pelacakan kontak erat, serta pengiriman sampel medis ke laboratorium utama.

Akibat eskalasi situasi yang dinilai sangat cepat ini, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada hari Minggu telah menetapkan status wabah di RD Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern.

Artikel terkait

Rekomendasi