Wabah Ebola Lumpuhkan Fasilitas Kesehatan di Republik Demokratik Kongo

Wabah Ebola Lumpuhkan Fasilitas Kesehatan di Republik Demokratik Kongo
Foto: Ilustrasi Wabah Ebola Lumpuhkan Fasilitas Kesehatan di Republik Demokratik Kongo.

Penyebaran cepat virus ebola kini tengah melumpuhkan fasilitas kesehatan di Republik Demokratik Kongo, seperti dilansir dari Media Indonesia. Rumah sakit dan klinik yang kekurangan sumber daya mulai kewalahan menangani pasien, memicu kekhawatiran akan sulitnya mengendalikan wabah yang tercatat sebagai yang terbesar ketiga dalam sejarah penyakit mematikan ini.

Berdasarkan data dari Africa Centers for Disease Control and Prevention (Africa CDC) hingga akhir pekan ini, tercatat sedikitnya 750 kasus suspek dengan angka kematian resmi mencapai 177 jiwa. Namun, para ahli meyakini jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi dari data yang dilaporkan.

Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan karena pasien terpaksa dirawat di bangsal umum akibat kurangnya pusat perawatan khusus ebola di wilayah terdampak parah.

"Rumah sakit berjuang tanpa peralatan sama sekali," tegas Jean Kaseya, Direktur Jenderal Africa CDC, dalam pengarahan di Kampala, Uganda.

Provinsi Ituri, yang menjadi pusat wabah, mengalami krisis tenaga medis yang akut. Minimnya staf memaksa otoritas kesehatan bergantung pada tokoh agama dan pemimpin etnis lokal untuk menyosialisasikan praktik sanitasi, seperti mencuci tangan dan menghindari kontak dengan jenazah korban ebola.

Beberapa fasilitas kesehatan bahkan mulai menolak pasien dengan penyakit serius lain demi memprioritaskan lonjakan kasus ebola. Di Rumah Sakit Karibuni Wamama, Bunia, para petugas medis terpaksa bekerja tanpa perlengkapan dasar seperti sarung tangan dan kantong jenazah, yang mengakibatkan beberapa staf turut terinfeksi.

Kongo saat ini menghadapi tantangan besar karena karakteristik medis yang ekstrem. Wilayah ini menghadapi strain virus Bundibugyo yang belum memiliki vaksin atau pengobatan spesifik, dengan tingkat kematian mencapai 50 persen. Kondisi ini diperparah oleh rasio dokter yang sangat minim, di mana Kongo hanya memiliki 1 dokter per 10.000 pasien, jauh dari standar WHO sebanyak 45 dokter per 10.000 pasien.

Hambatan Keamanan dan Ketegangan Sosial

Upaya penanggulangan semakin rumit akibat faktor keamanan dari kelompok militan yang berafiliasi dengan ISIS. Mereka dilaporkan menyerang desa-desa di dekat pusat wabah, menewaskan belasan orang, dan menghanguskan permukiman. Selain itu, kota-kota besar seperti Goma dan Bukavu saat ini berada di bawah kendali kelompok pemberontak M23, yang memutus akses sumber daya dari pemerintah pusat.

Ketegangan sosial juga meningkat di dekat Bunia setelah polisi terpaksa melepaskan gas air mata akibat massa membakar tenda perawatan ebola. Kerusuhan dipicu oleh penolakan petugas medis untuk menyerahkan jenazah pasien suspek ebola kepada keluarga yang ingin melakukan ritual pemakaman tradisional, praktik yang sangat berisiko menularkan virus.

Respons Internasional dan Pengetatan Perbatasan

Menanggapi krisis ini, pemerintah Kongo dan Uganda mengajukan bantuan sebesar US$320 juta kepada donor internasional. Amerika Serikat mengumumkan bantuan sebesar US$50 juta untuk membangun 50 klinik perawatan di kedua negara tersebut.

Negara tetangga seperti Uganda dan Rwanda juga memperketat kontrol perbatasan, termasuk menutup jalur penyeberangan dan melarang penerbangan dari wilayah terdampak guna mencegah penyebaran lintas negara. Saat ini, relawan dari Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah terus dikerahkan ke desa-desa terpencil untuk memberikan edukasi pencegahan dini.

Artikel terkait

Rekomendasi