Wabah virus Ebola baru di Provinsi Ituri, bagian timur Republik Demokratik Kongo (DRC), telah menyebabkan 80 orang meninggal dunia berdasarkan laporan dari kementerian kesehatan negara setempat pada Jumat malam. Krisis kesehatan ini dikonfirmasi melanda beberapa zona kesehatan setelah hasil pengujian laboratorium mendeteksi keberadaan virus jenis Bundibugyo.
Jumlah korban jiwa tersebut merupakan data resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat, sementara lembaga kesehatan publik Afrika mencatat angka kematian yang berbeda. Seperti dilansir dari Internasional, pihak kementerian kesehatan telah mengidentifikasi setidaknya delapan kasus positif yang terkonfirmasi serta ratusan kasus suspek lainnya di wilayah terdampak.
Pemerintah Kongo langsung mengambil tindakan cepat dengan mengaktifkan pusat operasi darurat kesehatan masyarakat serta memperkuat pengawasan epidemiologi di area penularan. Langkah ini diambil guna menekan penyebaran virus yang diduga berawal dari seorang tenaga medis di Bunia.
Lembaga kesehatan regional turut menyatakan kekhawatiran mendalam atas potensi perluasan wilayah penularan akibat tingginya mobilitas masyarakat. Fokus penanganan kini diarahkan pada koordinasi lintas batas negara untuk mencegah penyebaran ke wilayah tetangga.
"Africa CDC khawatir risiko penyebaran lebih lanjut meningkat karena konteks perkotaan Bunia dan Rwampara," serta "tingginya pergerakan penduduk" terkait aktivitas pertambangan di wilayah terdampak yang berdekatan dengan Uganda dan Sudan Selatan, tambah lembaga itu.
Pihak berwenang menekankan pentingnya langkah bersama yang cepat antara negara-negara di kawasan tersebut demi membendung pergerakan virus. Hal ini berkaitan dengan temuan kasus di luar wilayah Kongo yang teridentifikasi sebagai kasus impor.
"Dengan tingginya mobilitas penduduk antara wilayah terdampak dan negara tetangga, koordinasi regional yang cepat sangat penting," kata Direktur Jenderal Africa CDC Jean Kaseya dalam pernyataan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah terlibat dalam penanganan sejak awal munculnya kecurigaan wabah dan mendapati hasil pengujian yang berkembang. Lembaga global ini memobilisasi bantuan finansial guna menyokong operasional pelacakan hingga pelayanan klinis di lapangan.
"Africa CDC khawatir risiko penyebaran lebih lanjut meningkat karena konteks perkotaan Bunia dan Rwampara," serta "tingginya pergerakan penduduk" terkait aktivitas pertambangan di wilayah terdampak yang berdekatan dengan Uganda dan Sudan Selatan, tambah lembaga itu.
Situasi penanganan medis di Provinsi Ituri saat ini menghadapi tantangan berat akibat konflik bersenjata yang sedang berlangsung di wilayah tersebut. Kelompok milisi yang saling bertikai memperburuk kondisi sanitasi di tempat-tempat pengungsian warga sipil.
| Aspek | Data/Informasi |
|---|---|
| Lokasi wabah | Provinsi Ituri, Kongo Timur |
| Zona kesehatan terdampak | Rwampara, Mongwalu, Bunia |
| Strain virus | Bundibugyo (non-Zaire) |
| Jumlah kematian (versi Kemenkes DRC) | 80 orang |
| Jumlah kematian (versi Africa CDC) | 65 orang |
| Total kasus suspek | 246 kasus |
| Total kasus terkonfirmasi (WHO) | 13 kasus |
| Kasus indeks diduga | Perawat di Evangelical Medical Centre, Bunia |
| Gejala yang dilaporkan | Demam, pendarahan, muntah, kelemahan parah |
| Langkah pemerintah DRC | Aktifkan pusat darurat, perkuat surveilans, kirim tim respons |
| Langkah Africa CDC | Rapat darurat lintas negara (DRC-Uganda-Sudan Selatan) |
| Langkah WHO | Dana darurat US$ 500.000, dukungan tracing & tes lab |
| Faktor risiko penyebaran | Mobilitas penduduk, aktivitas pertambangan, wilayah dekat perbatasan |
| Kondisi lapangan | Konflik milisi, fasilitas kesehatan kewalahan (MSF) |
| Total wabah Ebola di DRC sejak 1976 | 17 wabah |