Wabah virus Ebola varian Bundibugyo dilaporkan telah meluas dari pusatnya di Republik Demokratik Kongo hingga ke Uganda pada Mei 2026. Data resmi mencatat terdapat 600 kasus suspek dengan 139 angka kematian akibat keterlambatan deteksi dini penyakit tersebut.
Krisis kesehatan ini memicu respons internasional setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional. Sebanyak 51 kasus telah dikonfirmasi berada di Kongo dan dua kasus lainnya ditemukan di Uganda.
Kondisi penularan yang cepat di lapangan diperparah oleh minimnya alat pelindung diri bagi para tenaga medis, dilansir dari Media Indonesia. Korban pertama yang teridentifikasi merupakan seorang perawat di Provinsi Ituri, Kongo, yang meninggal dunia pada 24 April lalu.
Pihak manajemen medis di area terdampak menyatakan bahwa seluruh fasilitas penampungan saat ini sudah tidak mampu menampung luapan pasien suspek baru.
"Fasilitas kami penuh dengan kasus suspek. Kami tidak punya ruang lagi. Ini memberi gambaran betapa gila situasinya saat ini," ungkap Trish Newport, Manajer Program Darurat Medecins Sans Frontieres (MSF).
Pemerintah Inggris mengumumkan penyaluran bantuan dana sebesar 20 juta poundsterling untuk membantu penanganan krisis ini di garda terdepan. Alokasi dana tersebut ditujukan untuk membiayai pengawasan ketat, kontrol infeksi, serta kebutuhan para tenaga medis.
Meskipun situasi regional dinilai mengkhawatirkan, otoritas kesehatan global menegaskan bahwa status peredaran virus ini belum masuk dalam kategori pandemi.
"WHO menilai risiko epidemi ini tinggi di tingkat nasional dan regional, namun rendah di tingkat global," ujar Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers di Geneva.
Hambatan besar lainnya muncul dari sisi preventif karena vaksin khusus untuk menangkal varian langka Bundibugyo ini diproyeksikan masih membutuhkan waktu pengembangan hingga sembilan bulan. Virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh dan dinilai lebih sulit ditangani dibanding varian Zaire.
Saat ini para peneliti sedang menguji dua kandidat vaksin yang telah dikembangkan namun keduanya tercatat belum melewati fase uji klinis resmi.
"WHO menilai risiko epidemi ini tinggi di tingkat nasional dan regional, namun rendah di tingkat global," ujar Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers di Geneva.
Hambatan besar lainnya muncul dari sisi preventif karena vaksin khusus untuk menangkal varian langka Bundibugyo ini diproyeksikan masih membutuhkan waktu pengembangan hingga sembilan bulan. Virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh dan dinilai lebih sulit ditangani dibanding varian Zaire.
Saat ini para peneliti sedang menguji dua kandidat vaksin yang telah dikembangkan namun keduanya tercatat belum melewati fase uji klinis resmi.