Wabah Ebola Guncang Kongo dan Meluas hingga Uganda

Wabah Ebola Guncang Kongo dan Meluas hingga Uganda
Foto: Ilustrasi Wabah Ebola Guncang Kongo dan Meluas hingga Uganda.

Wabah virus Ebola terbaru di wilayah timur Republik Demokratik Kongo telah merenggut sedikitnya 88 korban jiwa di Provinsi Ituri berdasarkan laporan data terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika pada Sabtu (16/5/2026).

Lonjakan kasus memicu kekhawatiran akibat penularan komunitas aktif yang kini terdeteksi meluas hingga ke negara tetangga, Uganda, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

Kondisi di ibu kota Ituri, Bunia, semakin mencekam seiring tingginya intensitas pemakaman warga setempat yang terjadi hampir setiap hari di wilayah tersebut.

"Setiap hari, orang-orang meninggal dan ini telah berlangsung selama sekitar seminggu. Dalam satu hari, kami menguburkan dua, tiga, atau bahkan lebih banyak orang," kata warga Bunia, Jean Marc Asimwe.

Ketidakpastian mengenai karakteristik medis dari epidemi yang tengah merebak ini juga menambah kecemasan mendalam di kalangan penduduk setempat.

"Saat ini, kami belum benar-benar tahu jenis penyakit apa ini," lanjutnya yang dikutip dari AP News.

Direktur Jenderal CDC Afrika, Dr Jean Kaseya, memaparkan bahwa pelacakan medis mengidentifikasi penularan pertama bermula dari zona kesehatan Mongwalu yang merupakan area pertambangan padat mobilitas.

"Kasus-kasus tersebut kemudian menyebar ke Rwampara dan Bunia karena pasien mencari perawatan medis, sehingga memungkinkan penyebaran di tiga zona kesehatan," katanya dalam konferensi pers daring, Sabtu (16/5/2026).

Hambatan besar dalam melokalisasi penyebaran virus dipicu oleh keberadaan sejumlah kasus yang belum tertangani di lingkungan warga.

"Secara signifikan mempersulit upaya penahanan dan pelacakan kontak," sambung Dr Kaseya.

Menteri Kesehatan Kongo Samuel-Roger Kamba mengonfirmasi bahwa pengujian laboratorium mengidentifikasi virus Ebola strain Bundibugyo sebagai penyebab utama wabah ke-17 di negara tersebut sejak 1976.

Dampak psikologis dari kepanikan epidemi ini juga dirasakan oleh warga di Kampala, Uganda, pasca-adanya satu kasus fatalitas impor dari Kongo.

"Saya benar-benar takut karena saya ingat menguburkan ayah saya tanpa melihat jenazahnya," kata warga Kampala, Ismail Kigongo, yang mengaku trauma setelah kehilangan ayahnya saat pandemi COVID-19.

Pemerintah Kongo kini menghadapi tantangan logistik berat karena Ituri berada 1.000 kilometer dari ibu kota Kinshasa serta berada di zona konflik bersenjata.

"Rekomendasi saya adalah agar pemerintah menanggapi masalah ini dengan serius dan mengambil alih pengelolaan rumah sakit sehingga masalah ini dapat dikendalikan," pungkasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi