Republik Demokratik Kongo Temukan Wabah Ebola Varian Baru

Republik Demokratik Kongo Temukan Wabah Ebola Varian Baru
Foto: Ilustrasi Republik Demokratik Kongo Temukan Wabah Ebola Varian Baru.

Benua Afrika kembali berada dalam status siaga tinggi setelah temuan wabah virus Ebola baru di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, menyebabkan 65 orang diduga meninggal dunia dari total 246 kasus suspek. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mengumumkan kondisi darurat ini pada Minggu (17/5/2026).

Penyebaran kasus saat ini terpusat di wilayah kesehatan Mongwalu dan Rwampara, sebagaimana dilansir dari Investor Daily yang mengutip laporan Reuters. Deteksi kasus suspek juga telah mencapai Bunia, ibu kota provinsi yang padat penduduk, sehingga memicu kekhawatiran penyebaran yang lebih masif.

Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa virus yang merebak kali ini diduga bukan berasal dari varian 'Zaire' yang umum memicu wabah sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi mempersulit penanganan medis lantaran mayoritas vaksin serta pengobatan saat ini diproduksi khusus untuk melawan varian Zaire.

Ahli virologi terkemuka Kongo sekaligus penemu virus Ebola, Jean-Jacques Muyembe, memberikan penjelasan mengenai dampak dari temuan mutasi virus tersebut terhadap proses penanggulangan di lapangan.

"Varian yang berbeda akan membuat respons kita lebih rumit," jelas Muyembe.

Hampir seluruh dari 16 wabah terdahulu di negara tersebut dipicu oleh varian Zaire. Selain ancaman mutasi virus, mobilitas tinggi pekerja tambang dan kepadatan penduduk di Bunia meningkatkan risiko penyebaran lintas batas negara karena wilayah Ituri berdekatan dengan Uganda dan Sudan Selatan.

Kementerian Kesehatan Uganda bahkan telah melaporkan satu kasus kematian impor, yakni seorang pria asal Kongo di Kampala yang teridentifikasi terkena Ebola varian Bundibugyo. Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi 13 kasus positif berdasarkan uji laboratorium di Kinshasa pada Kamis lalu.

WHO kini telah mengucurkan dana darurat senilai US$ 500.000 guna mendanai pelacakan kontak, uji laboratorium, serta perawatan klinis pasien. Kendati demikian, konflik bersenjata antarmilisi di Provinsi Ituri menjadi hambatan terbesar bagi petugas medis karena melumpuhkan fasilitas kesehatan dan memperburuk sanitasi di kamp pengungsian.

Ebola pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 di wilayah yang kini menjadi Republik Demokratik Kongo, dan sejak saat itu negara tersebut telah mengalami 17 kali gelombang wabah. Sebelum wabah terbaru ini muncul, Kongo terakhir kali menghadapi serangan Ebola di Provinsi Kasai yang menewaskan 45 orang sebelum dinyatakan berakhir pada Desember 2025.

Artikel terkait

Rekomendasi