Varian baru Covid-19 BA.3.2 yang dijuluki Cicada kini menjadi perhatian otoritas kesehatan global setelah menyebar di setidaknya 23 negara hingga Februari 2026. Meskipun belum ditemukan di Indonesia, mutasi protein spike yang masif pada varian ini memicu pengawasan ketat untuk mengantisipasi penurunan efektivitas sistem imun.
Varian Cicada pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan pada November 2024, namun aktivitas penyebarannya baru menunjukkan tren peningkatan signifikan sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026. Laporan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat adanya 70 hingga 75 mutasi pada bagian protein spike virus tersebut.
Guru Besar Mikrobiologi FK-KMK UGM, Tri Wibawa, menjelaskan bahwa kemunculan varian ini di mancanegara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa, belum dibarengi bukti adanya tingkat fatalitas yang lebih tinggi. Pihaknya memastikan hingga saat ini Indonesia masih aman dari paparan varian tersebut.
"Data yang ada tidak menunjukkan indikasi Cicada lebih ganas dibandingkan strain sebelumnya," ujarnya dikutip dalam laman resmi UGM, Kamis (23/4/2026).
Karakteristik infeksi yang ditimbulkan oleh BA.3.2 disebut serupa dengan varian terdahulu tanpa ada tanda-tanda klinis yang bersifat unik atau spesifik. Tri Wibawa menekankan pentingnya bagi setiap individu untuk mengenali kondisi daya tahan tubuh masing-masing secara dini.
"Tidak ada gejala spesifik yang membedakan pasien yang terinfeksi Cicada dengan pasien Covid-19 lainnya," jelas Tri Wibawa.
Peneliti mikrobiologi ini menambahkan bahwa kewaspadaan masyarakat harus tetap terjaga melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat secara konsisten. Disiplin protokol kesehatan dasar dinilai masih sangat efektif untuk memutus rantai penularan segala jenis mutasi virus corona.
"Tidak ada langkah spesifik untuk Cicada. Masyarakat perlu tetap menjaga pola hidup sehat dan kewaspadaan," tegas Tri Wibawa.
Dilansir dari Lifestyle, ahli biologi evolusi T. Ryan Gregory menyoroti pola kemunculan kembali Cicada setelah sempat tidak terpantau dalam radar pengawasan epidemiologi. Durasi keberadaan varian ini di tengah populasi dianggap sebagai anomali dibandingkan siklus hidup varian lain.
"Apa yang berbeda bukan bagaimana varian ini muncul, tetapi apa yang terjadi sekarang. Varian ini sudah ada cukup lama, dan kini mulai meningkat," jelas T. Ryan Gregory.
Sementara itu, profesor mikrobiologi Marc Johnson memberikan pandangan tambahan mengenai daya tahan varian BA.3.2 dalam lingkungan populasi global. Perilaku virus ini dinilai tidak lazim jika dibandingkan dengan mutasi sebelumnya yang cenderung cepat menghilang.
"Varian ini sudah ada cukup lama, dan kini mulai meningkat," jelas Marc Johnson.
Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa risiko keparahan penyakit akibat Cicada masih dalam kategori serupa dengan varian Covid-19 lainnya. Langkah pencegahan yang disarankan meliputi menjaga sanitasi, menghindari kerumunan saat sakit, serta segera melakukan pemeriksaan medis jika mengalami gangguan kesehatan.