JD Vance Tegaskan Perang Melawan Iran Bukan Konflik Tanpa Akhir

JD Vance Tegaskan Perang Melawan Iran Bukan Konflik Tanpa Akhir
Foto: Ilustrasi JD Vance Tegaskan Perang Melawan Iran Bukan Konflik Tanpa Akhir.

Pemerintah Amerika Serikat menegaskan konflik bersenjata dengan Iran tidak akan menjadi perang yang berlangsung selamanya. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dalam konferensi pers di Gedung Putih, seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (19/5/2026).

Langkah ini diambil sebagai bentuk pembelaan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump yang kini menghadapi tekanan politik hebat. Tekanan tersebut dipicu oleh lonjakan harga energi global serta meningkatnya kekhawatiran masyarakat domestik akan potensi konflik berkepanjangan.

Vance yang bertugas menggantikan sementara juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt karena cuti melahirkan, menjawab berbagai pertanyaan jurnalis selama hampir satu jam. Ia tampil dengan pembawaan yang lebih tenang dibandingkan dengan gaya konfrontatif yang biasa ditunjukkan oleh Trump.

Dalam kesempatan tersebut, ia menepis rentetan kritik yang mengarah pada administrasi pemerintah. Isu yang diklarifikasi mencakup kemungkinan pemberian kompensasi bagi pelaku penyerangan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 hingga kekhawatiran negara-negara Eropa terkait pengurangan pasukan militer Amerika Serikat di Polandia.

Mengenai situasi perang dengan Iran, Vance memastikan bahwa pertimbangan utama pemerintah adalah keselamatan dan keamanan nasional, namun tetap menghindari keterlibatan jangka panjang.

"Ini bukan perang selamanya. Kami akan menyelesaikan urusan dan pulang," ujar Vance.

Fase krusial ini muncul saat konflik Iran mulai bertransformasi menjadi ujian politik bagi Donald Trump dan para politisi Partai Republik. Apalagi, mereka harus menghadapi pemilu sela Kongres yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.

Konflik yang telah pecah sejak 28 Februari tersebut melumpuhkan sebagian besar jalur perdagangan minyak internasional. Dampak langsungnya, harga bensin di wilayah Amerika Serikat melambung tinggi hingga menyentuh angka sekitar 50%.

Meningkatnya beban biaya hidup harian ini mulai menggerus tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Trump. Berdasarkan data survei terbaru dari Reuters/Ipsos yang dirilis pada Selasa, tingkat kepuasan publik merosot ke angka terendah sejak ia kembali menjabat di Gedung Putih.

Kondisi ini juga memicu kecemasan di kalangan pemilih Partai Republik sendiri yang mengkhawatirkan stabilitas ekonomi domestik akibat perang. Hasil jajak pendapat yang sama menunjukkan sekitar 34% responden memberikan penilaian positif terhadap Vance, sedangkan 33% menyatakan hal senada bagi Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Dukungan publik terhadap Vance tercatat mengalami penurunan jika dibandingkan dengan posisi pada Januari 2025 yang kala itu sempat berada di angka 42%.

Di sisi lain, dinamika persaingan menuju Pemilihan Presiden 2028 mulai memanas. Ruang konferensi pers di Gedung Putih kini dinilai menjadi panggung pembuktian bagi para tokoh yang digadang-gadang akan menjadi suksesor Trump.

Penampilan Vance di podium ini terjadi berselang dua minggu setelah Marco Rubio mencuri perhatian publik dalam debut pertamanya di lokasi yang sama. Saat dimintai konfirmasi mengenai potensinya untuk maju sebagai calon presiden, Vance langsung memberikan bantahan resmi.

"Saya bukan calon presiden potensial. Saya wakil presiden dan saya menyukai pekerjaan saya," katanya.

Walaupun Vance dan Rubio terus berupaya meredam isu politik terkait suksesi tersebut, Trump justru bertindak sebaliknya dengan melempar spekulasi ke publik. Dalam sebuah acara jamuan makan malam di Rose Garden pekan lalu, Trump menanyakan opini para tamu mengenai siapa yang lebih layak didukung antara Vance atau Rubio.

Trump bahkan melontarkan pandangan bahwa kedua tokoh tersebut dapat menjadi kombinasi pasangan yang ideal, meskipun dirinya belum memberikan pernyataan dukungan resmi kepada salah satu pihak.

Di tengah sesi tanya jawab, Vance sempat mencairkan suasana dengan menyelipkan gurauan tentang istrinya, Usha Vance, yang saat ini sedang mengandung anak keempat mereka.

Ia berseloroh meminta Karoline Leavitt untuk berganti posisi menjadi wakil presiden sementara sewaktu istrinya menjalani proses persalinan pada Juli mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi