Lahan Sampah Ilegal Batu Ampar Berubah Menjadi Kawasan Urban Farming

Lahan Sampah Ilegal Batu Ampar Berubah Menjadi Kawasan Urban Farming
Foto: Ilustrasi Lahan Sampah Ilegal Batu Ampar Berubah Menjadi Kawasan Urban Farming.

Pemerintah Kelurahan Batu Ampar mengubah lahan bekas pembuangan sampah ilegal di Kramat Jati, Jakarta Timur, menjadi kawasan pertanian perkotaan atau urban farming produktif bernama Saung Aset pada Jumat (15/5/2026). Lokasi yang dahulu terbengkalai tersebut kini ditanami berbagai komoditas pangan seperti kangkung, cabai, jagung, dan terong guna mendukung ketahanan pangan lokal.

Perubahan fungsi lahan ini dilakukan untuk mengatasi persoalan sampah liar yang telah berlangsung bertahun-tahun di samping RPTRA Udara Segar, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Pengolahan lahan dilakukan secara mandiri oleh petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) melalui kolaborasi lintas sektor di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Timur.

Kasi Ekbang Kelurahan Batu Ampar, Isra Nur Hikmah, menjelaskan bahwa area tersebut memiliki sejarah panjang sebagai lokasi yang kumuh dan dipenuhi aroma tidak sedap sejak dirinya masih kecil. Penertiban lahan seluas ratusan meter tersebut sempat mengalami kendala klaim kepemilikan dari pihak-pihak tertentu.

"Zaman Gubernur Pak Ahok, di sebelah dibangun RPTRA. Sementara lokasi ini masih terbengkalai dan banyak yang mengaku-ngaku sebagai pemilik lahan. Akhirnya muncul pemancingan ilegal," ujar Isra Nur Hikmah, Kasi Ekbang Kelurahan Batu Ampar.

Meski lahan berhasil diambil alih oleh Pemerintah Kota Jakarta Timur pada 2022, proses pengamanan aset tersebut sempat diwarnai aksi vandalisme oleh pihak luar. Penertiban dilakukan dengan pemasangan plang aset daerah dan pengecatan tembok pembatas kawasan.

"Setelah kami mengecat tembok depan sampai selesai jam setengah lima sore, besok paginya muncul tulisan ÔÇÿIni bukan milik Pemerintah DaerahÔÇÖ disertai kata-kata tidak pantas. Padahal plangnya jelas milik Pemerintah Daerah," kata Isra Nur Hikmah, Kasi Ekbang Kelurahan Batu Ampar.

Gagasan pembangunan urban farming baru muncul secara konkret pada akhir tahun 2023 menyusul adanya laporan warga. Kelurahan memanfaatkan aplikasi JAKI untuk menindaklanjuti keluhan terkait tumpukan sampah liar di lokasi yang tidak terurus tersebut.

"Saya masuk sini akhir 2023. Kebetulan ada aduan pembuangan sampah lewat JAKI. Dari situ muncul ide membuat urban farming. Saya minta bantuan teman-teman PPSU untuk membuatnya," lanjut Isra Nur Hikmah, Kasi Ekbang Kelurahan Batu Ampar.

Upaya pembersihan lahan melibatkan kerja sama antara petugas PPSU dengan Satuan Pelaksana Pertamanan, Sumber Daya Alam, dan Bina Marga. Pihak kelurahan harus mendatangkan tanah baru karena kondisi awal lokasi tersebut didominasi oleh tumpukan sampah yang tertimbun.

"Kondisi awal benar-benar nol karena yang ada hanya sampah, bukan tanah. Tanah didapat dari kolaborasi dengan Satuan Pelaksana Pertamanan dan Sumber Daya Alam yang membantu meratakan. Bina Marga juga ikut berkolaborasi. Akhirnya terbentuk urban farming ini," ungkap Isra Nur Hikmah, Kasi Ekbang Kelurahan Batu Ampar.

Kawasan Saung Aset kini menyediakan pasokan pangan bagi masyarakat setempat melalui mekanisme pembagian gratis dan penjualan hasil tani. Keberadaan lokasi ini juga bertujuan meniadakan tempat pembuangan sampah liar di wilayah yang tidak memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS) resmi.

"Tempat pembuangan yang ada saat ini bukan Tempat Pembuangan Sementara resmi pemerintah, sifatnya ilegal. Kelurahan Batu Ampar tidak memiliki Tempat Pembuangan Sementara. Warga langsung membuang ke depo Lingkungan Hidup di Cililitan, diangkut oleh petugas sampah dari masyarakat," jelas Isra Nur Hikmah, Kasi Ekbang Kelurahan Batu Ampar.

Masyarakat dapat terlibat langsung dalam proses panen dengan konsep wisata tani yang memungkinkan mereka memetik sayuran secara mandiri. Sebagian hasil panen didistribusikan kepada warga yang membutuhkan di sekitar lingkungan kelurahan.

"Waktu ada sayur dan ikan, kami bagikan ke yang membutuhkan. Selan itu ada yang, biaaanta Kami tanya ke petugas, ÔÇ£Kangkung panen kapan?ÔÇØ Kalau jawabannya seminggu lagi, seminggu kemudian kami infokan ke masyarakat siapa yang mau beli," ucap Isra Nur Hikmah, Kasi Ekbang Kelurahan Batu Ampar.

Pengelola menerapkan sistem petik sendiri dengan menyediakan perlengkapan tambahan seperti topi caping untuk menarik minat pengunjung. Pengalaman bertani di tengah kota ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar yang ingin berswafoto.

"Sistemnya unik, warga mencabut sendiri. Kami pinjamkan topi caping, mereka bisa selfie. Rasanya seperti di desa," ujar Isra Nur Hikmah, Kasi Ekbang Kelurahan Batu Ampar.

Seluruh dana yang terkumpul dari hasil penjualan sayur dan ikan digunakan kembali untuk operasional lahan. Pengelola mengandalkan perputaran uang tersebut guna menutupi kebutuhan bibit dan pupuk yang tidak terakomodasi sepenuhnya oleh bantuan instansi terkait.

"Kita dapat bantuan dari Suku Dinas buat tanaman dan pupuk, tapi kan enggak banyak jumlahnya makanya kita perlu beli, ya uangnya dari situ, karena kita enggak ada anggaran khusus," jelas Isra Nur Hikmah, Kasi Ekbang Kelurahan Batu Ampar.

Artikel terkait

Rekomendasi