Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tengah mengkaji secara mendalam rencana keterlibatan dan pembangunan infrastruktur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan kampus, Senin (18/5).
Langkah kehati-hatian ini diambil guna mengantisipasi potensi kasus keracunan makanan dan mencegah praktik jual-beli titik lokasi SPPG, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Wakil Rektor UNJ Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Ifan Iskandar, menjelaskan bahwa pihak rektorat telah menginstruksikan pembentukan tim khusus yang melibatkan program studi terkait.
"UNJ masih mempelajari, Pak Rektor minta kemarin kita melibatkan teman-teman dari Prodi Kuliner untuk menyiapkan tim yang kuat mempelajari kasus-kasus keracunan dan lain-lain itu sudah ada tim kita. Kemudian sudah ada tim yang mempelajari apakah memang UNJ masih bisa mendapatkan titik-titik untuk pembangun SPPG-nya," ungkap Ifan Iskandar, Wakil Rektor UNJ Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni.
Pihak universitas menegaskan komitmennya untuk mengikuti arahan kepala negara terkait transparansi penentuan lokasi pemenuhan gizi nasional ini.
"Kita tidak mau terlibat tapi kita enggak punya titik (SPPPG), terus kita cari ada orang yang mau ngasih titik. Tapi kan enggak ngasihnya gratis. UNJ ikut mendukung dilarangnya jual-beli titik SPPG. Itu dilarang oleh Pak Presiden jadi kehati-hatian kami disitu, untuk tidak tergesa-gesa," tegas Ifan Iskandar, Wakil Rektor UNJ Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni.
Meski penuh kehati-hatian, kehadiran fasilitas ini dinilai memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi dan praktikum nyata bagi mahasiswa vokasi.
"Sebenarnya kalau UNJ, MBG itu jadi lahan bagus untuk praktiknya teman-teman Prodi Kuliner kan. Kami ada vokasi kuliner dan kita ingin membuat yang namanya teaching factory kan. Dengan ada SPPG malah lebih baik, dari aspek itu sebenarnya SPPG bisa menjadi lab-nya kuliner, lab-nya biologi dan kimia pada sisi itu. Tapi kalau bicara kebijakan kan balance," tandas Ifan Iskandar, Wakil Rektor UNJ Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni.
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyatakan bahwa perguruan tinggi memegang peranan krusial sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik sekaligus dapur penyedia logistik makanan pangan berskala besar.
Untuk mendukung operasional satu unit SPPG secara mandiri, diperlukan pasokan komoditas yang luas mencakup 8 hektare sawah, 19 hektare lahan jagung, serta 4.000 ekor ayam petelur.