Fenomena kebakaran misterius yang terjadi puluhan kali di sebuah rumah di kawasan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, memicu perhatian serius dari berbagai pihak. Insiden yang terjadi sebanyak 51 kali dalam kurun waktu hanya satu minggu ini membuat pemilik rumah merasa cemas dan tidak tenang.
Objek yang terbakar pun sangat beragam, mulai dari material kain, gabus, plastik, hingga benda berbahan dasar kayu. Hingga Jumat (29/5/2026), api dilaporkan muncul secara sporadis dan membakar barang-barang yang ada di berbagai sudut rumah tanpa penyebab yang pasti.
Tim Ahli UGM Lakukan Observasi Lapangan
Menanggapi situasi ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) berencana menerjunkan tim khusus untuk melakukan penelusuran mendalam terkait rentetan kebakaran tersebut. Tim ini diharapkan mampu memberikan penjelasan ilmiah mengenai fenomena yang tidak lazim ini.
Alva Edy Tontowi, selaku Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM, menyatakan bahwa pihaknya akan mengirimkan tim lintas disiplin ilmu. Proses observasi lapangan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (30/5) dengan melibatkan ahli dari berbagai bidang kompetensi.
Daftar personel ahli dari UGM yang akan diterjunkan ke lokasi meliputi:
- Pakar dari Teknik Mesin dan Industri.
- Ahli dari Teknik Nuklir dan Fisika.
- Perwakilan dari Teknik Sipil dan Lingkungan.
- Pakar dari bidang Geologi.
Alva menjelaskan bahwa langkah awal yang akan diambil adalah melakukan observasi menyeluruh terhadap sumber api dan titik-titik kebakaran. Tim juga akan memeriksa kondisi lingkungan di sekitar rumah untuk mencari keterkaitan antara fenomena tersebut dengan faktor eksternal.
Kehadiran tim UGM ini didasari atas rasa kemanusiaan untuk membantu pemilik rumah yang sedang tertimpa musibah. Alva berharap landasan keilmuan yang dimiliki timnya bisa mengungkap penyebab pasti di balik peristiwa yang menghebohkan warga setempat ini.
Ia juga menambahkan bahwa kejadian serupa pernah ditemukan di tempat lain dengan penyebab yang bervariasi. Faktor-faktor seperti akumulasi gas metana, kemunculan biogas, hingga masalah teknis pada instalasi listrik sering kali menjadi pemicu utama.
Meski demikian, Alva menegaskan bahwa pihaknya belum bisa menarik kesimpulan apa pun untuk kasus di Sleman ini sebelum data lapangan terkumpul. Analisis mendalam baru akan dilakukan setelah proses observasi awal selesai dijalankan oleh tim ahli.
Pantauan Intensif dari Pemda DIY dan Instansi Terkait
Pemerintah Daerah (Pemda) DIY melalui Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) juga tidak tinggal diam dalam memantau kasus ini. Koordinasi intensif terus dilakukan untuk memitigasi risiko lebih lanjut bagi penghuni rumah.
Anna Rina Herbranti, Kepala Dinas PUPESDM DIY, menjelaskan bahwa pihaknya secara berkala melakukan komunikasi dengan BPBD Sleman dan pihak PLN. Langkah ini penting untuk memastikan aspek keselamatan dari sisi kelistrikan dan penanggulangan bencana daerah.
Rencananya, tim dari Dinas PUPESDM juga akan mendatangi lokasi kejadian pada Sabtu (30/5). Mereka tidak bergerak sendiri, melainkan akan bergabung dengan instansi lain seperti UPN Veteran Yogyakarta dan BPBD untuk melakukan pengecekan komprehensif.
Berdasarkan analisis awal terkait kondisi geografis, Anna memaparkan bahwa wilayah Seyegan secara dominan terdiri dari Endapan Merapi Muda. Material ini meliputi pasir vulkanik, abu vulkanik, tuf, serta sedimen aluvial yang berasal dari aktivitas Gunung Merapi.
Berikut adalah ringkasan data teknis mengenai kondisi geologi di wilayah Seyegan:
| Aspek Geologi | Keterangan dan Kondisi Lapangan |
|---|---|
| Jenis Material | Pasir vulkanik, tuf, abu vulkanik, dan sedimen aluvial Merapi Muda. |
| Karakteristik Batuan | Material lepasan, tidak berpotensi menjadi sumber atau perangkap hidrokarbon. |
| Struktur Geologi | Tidak ditemukan sesar aktif, lipatan, atau cekungan sedimen utama. |
| Potensi Gas Alam | Secara regional tidak mendukung adanya sistem akumulasi gas bawah tanah. |
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa secara struktur geologi regional, kecil kemungkinan api dipicu oleh cadangan gas alam bawah permukaan. Wilayah tersebut tidak memiliki karakteristik batuan yang mampu memerangkap hidrokarbon dalam skala besar.
Namun, Anna menyebutkan bahwa munculnya api secara mendadak bisa saja disebabkan oleh akumulasi gas metana dari tangki septik (septictank) dalam skala lokal. Tanah di Seyegan yang bersifat porus memungkinkan gas merembes naik jika terdapat celah atau kepadatan tanah yang kurang.
Kondisi tanah yang berongga memungkinkan gas organik tersebut naik ke permukaan melalui pori-pori tanah atau rekahan kecil. Jika gas tersebut terperangkap pada material yang mudah terbakar, maka risiko terjadinya api secara spontan menjadi sangat mungkin terjadi.
Kesaksian Penghuni Rumah Terkait Teror Api
Penghuni rumah, Mutviana (29), menceritakan betapa mencekamnya situasi yang ia hadapi selama seminggu terakhir ini. Ia mencatat setidaknya sudah ada 51 titik api yang muncul di berbagai bagian rumahnya tanpa diketahui pemicu awalnya.
Waktu kemunculan api pun tidak menentu, terkadang terjadi pada dini hari saat penghuni sedang beristirahat atau di siang hari saat aktivitas sedang tinggi. Lokasi kebakaran menyebar mulai dari area depan, bagian belakang rumah, hingga sudut-sudut ruangan yang sempit.
Mutviana mengungkapkan bahwa insiden yang paling mengkhawatirkan adalah saat api membakar sebuah sofa berukuran besar. Selain itu, beberapa benda lain seperti pintu, tikar, dan gantungan kain juga tak luput dari sasaran api misterius tersebut.
Menurut pengamatannya, benda-benda yang terbakar biasanya memiliki media yang mudah menyerap gas atau uap tertentu. Ia mencontohkan banyak bagian gagang pintu yang terbakar karena sering kali terdapat kain atau pakaian yang tergantung di sana.
Kejadian yang berulang ini telah menciptakan ketakutan tersendiri bagi Mutviana dan anggota keluarga lainnya. Mereka berharap investigasi dari tim UGM dan instansi terkait dapat segera menemukan solusi agar kehidupan mereka bisa kembali normal seperti sedia kala.