Karakteristik wilayah Indonesia dinilai memiliki kemiripan dengan Nankai Trough, salah satu kawasan megathrust paling aktif di dunia yang terletak di Jepang. Potensi tersebut diungkapkan oleh Ahli Jepang Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University saat menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir Desember 2025, seperti dilansir dari Detik iNET.
Pemantauan deformasi kerak bumi dalam jangka panjang menjadi kunci penting dalam mitigasi bencana meskipun waktu terjadinya gempa besar sulit diprediksi. Profesor Kosuke Heki menekankan pentingnya peran Global Navigation Satellite System (GNSS) serta pengukuran geodesi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan di zona subduksi.
"Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar," kata Heki saat menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir Desember 2025, sebagai detikINET kutip dari CNBC Indonesia.
Adanya kopling antar seismik yang saling mengunci terdeteksi hampir di sepanjang sumbu palung. Regangan dikabarkan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya, bahkan pada bagian batas lempeng yang sangat dangkal.
"Kami melihat adanya kopling antar seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya," terangnya.
Fenomena slow slip event atau pergeseran lambat yang kerap muncul sebelum gempa besar turut menjadi sorotan. Pergerakan yang sangat perlahan ini dinilai berpotensi menjadi indikator awal bencana.
"Fenomena ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini bisa saja memicu gempa besar berikutnya," sambungnya.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem pemantauan serupa karena memiliki banyak zona subduksi aktif mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku. Penguatan jaringan GNSS dan teknologi pemantauan dasar laut dirasa dapat membantu Indonesia membaca akumulasi tegangan tektonik secara lebih presisi.
"Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia," aku Heki.
Berdasarkan data peta terbaru, zona Megathrust Aceh-Andaman tercatat menyimpan potensi gempa terbesar dengan magnitudo maksimum mencapai 9,2. Sementara itu, wilayah Megathrust Jawa memiliki potensi memicu gempa hingga M 9,1, diikuti zona lain seperti Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano yang masing-masing menyimpan potensi gempa hingga M 8,9.