Trump Tolak Usulan Damai Iran dan Peringatkan Kondisi Gencatan Senjata

Trump Tolak Usulan Damai Iran dan Peringatkan Kondisi Gencatan Senjata
Foto: Ilustrasi Trump Tolak Usulan Damai Iran dan Peringatkan Kondisi Gencatan Senjata.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak tawaran balasan dari Iran pada Senin (12/5/2026), yang mengakibatkan stabilitas perdamaian di Timur Tengah kini berada dalam kondisi sangat kritis. Penolakan tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia dan memupus harapan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran komersial.

Situasi diplomatik yang buntu ini berdampak langsung pada pasar energi global, sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Trump menilai usulan yang diajukan oleh pihak Teheran sama sekali tidak memenuhi standar yang diharapkan oleh pemerintah Amerika Serikat dalam upaya mencapai resolusi konflik.

"Gencatan senjata ini sedang dalam kondisi kritis yang sangat parah. Ibarat seorang dokter masuk ke ruangan dan memberi tahu Anda bahwa orang yang Anda cintai hanya punya peluang hidup satu persen," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.

Merespons situasi tersebut, Trump juga menyatakan tekadnya untuk memastikan posisi Amerika Serikat tetap kuat dalam menghadapi tuntutan pihak lawan. Ia menegaskan tidak akan menerima persyaratan yang dianggap merugikan kepentingan nasional negaranya.

"Jawaban dari Iran sama sekali tidak dapat diterima dan menyatakan komitmennya untuk meraih kemenangan mutlak atas Iran," tegas Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pihak Iran melalui otoritas legislatifnya menyatakan kesiapan militer untuk menghadapi segala bentuk tekanan dari Washington. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menekankan bahwa pihaknya tidak akan memberikan konsesi tambahan di luar usulan yang telah diajukan sebelumnya.

"Tidak ada pilihan lain selain menerima poin-poin dalam usulan 14 poin kami. Semakin lama mereka menunda, semakin besar beban yang harus dibayar oleh pembayar pajak Amerika," tegas Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.

Dampak ekonomi dari ketegangan ini sangat masif, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur distribusi bagi hampir seperlima konsumsi minyak dunia. Blokade maritim yang terjadi sejak awal tahun 2026 telah mengganggu rantai pasok energi dan komoditas vital seperti pupuk.

CEO Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan bahwa keterlambatan normalisasi di Selat Hormuz dapat memperpanjang krisis energi hingga tahun depan. Selain masalah energi, PBB mengkhawatirkan ancaman kelaparan bagi 45 juta orang akibat terhambatnya distribusi logistik pangan global.

Ketegangan ini berakar dari operasi militer besar-besaran yang diluncurkan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 terhadap target strategis Iran. Meski gencatan senjata sempat disepakati pada 7 April 2026, perbedaan pandangan mengenai sanksi ekonomi dan aktivitas nuklir membuat perdamaian permanen sulit terwujud.

Artikel terkait

Rekomendasi