Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan ketidakpuasannya terhadap poin-poin kesepakatan damai yang sedang dinegosiasikan dengan Iran pada hari Rabu, waktu setempat. Washington menyatakan kesiapan untuk melanjutkan aksi militer apabila kesepakatan akhir gagal tercapai, dilansir dari Media Indonesia.
Sikap keras tersebut disampaikan menyusul laporan televisi negara Iran mengenai draf perjanjian yang mengklaim pembukaan Selat Hormuz dan penarikan militer AS. Pihak Gedung Putih segera merespons dengan menyebut isi draf tersebut sebagai rekayasa total.
"Mereka hanya ingin membuat kesepakatan - menurut saya mereka tidak punya pilihan," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Kondisi krisis ekonomi dan politik internal dinilai menjadi pendorong utama Teheran untuk melunakkan sikap dalam meja perundingan. Kendati demikian, Trump memastikan posisi AS tidak akan terburu-buru menyetujui poin yang merugikan kepentingan mereka.
"Iran sangat berniat, mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Sejauh ini, mereka belum mencapainya dan kami tidak puas dengan hal itu. Namun sekarang kami akan mencapainya atau kami terpaksa harus menyelesaikan pekerjaan ini," lanjut Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Klarifikasi juga datang dari lingkaran utama pemerintahan mengenai kelanjutan pembicaraan bilateral tersebut. Ada beberapa kemajuan serta ketertarikan yang terlihat sepanjang proses diplomasi yang berjalan di tengah tensi tinggi.
"Kita akan lihat dalam beberapa jam dan hari ke depan apakah kemajuan bisa dicapai," kata Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
Sebelumnya, media Iran mengklaim kesepakatan akan mencakup pencabutan blokade laut oleh AS. Sebagai gantinya, arus perdagangan komersial di Selat Hormuz akan dipulihkan dalam tempo satu bulan di bawah pengawasan bersama Iran dan Oman.
Namun, Trump membantah keras klaim tersebut dan menegaskan tidak boleh ada pihak manapun yang mengendalikan jalur maritim strategis tersebut. Selain itu, ia menepis isu pelonggaran sanksi ekonomi serta keterlibatan Rusia dan Tiongkok dalam mengamankan uranium Iran.
Konflik bersenjata ini sendiri pertama kali meletus setelah pasukan koalisi AS dan Israel meluncurkan serangan udara masif ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Situasi sempat mereda melalui gencatan senjata pada 8 April, sebelum akhirnya kembali memanas minggu ini.