Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran kini berada dalam kondisi kritis atau "life support" pada Selasa (12/5/2026). Pernyataan ini muncul setelah pemerintah Iran menolak usulan Amerika Serikat dan justru mengajukan daftar tuntutan baru yang dinilai sangat berat.
Dilansir dari Investor Daily, kegagalan negosiasi ini dipicu oleh persyaratan Iran yang menuntut penghentian perang di semua lini termasuk Lebanon. Selain itu, Teheran menuntut pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, ganti rugi kerusakan perang, serta pencabutan total blokade laut oleh militer Amerika Serikat.
Presiden Trump menyampaikan penolakan kerasnya terhadap daftar tuntutan tersebut dalam sebuah keterangan resmi. Ia menganggap dokumen yang dikirimkan oleh pihak Iran tidak memiliki nilai tawar yang masuk akal bagi pihak Gedung Putih.
"Saya menyebutnya (kesepakatan) paling lemah saat ini, setelah membaca tumpukan sampah yang mereka kirimkan. Saya bahkan tidak selesai membacanya," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.
Ketegangan diplomatik ini berdampak signifikan pada sektor ekonomi global, terutama pada sektor energi primer. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan melonjak hingga mendekati angka US$ 108 per barel akibat kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi dunia.
Kenaikan harga ini terjadi karena Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia hampir tertutup total. Pentagon mencatat bahwa biaya operasi militer dalam konflik ini telah membengkak hingga mencapai US$ 29 miliar atau sekitar Rp 460 triliun.
Komando Pusat Amerika Serikat terus memperkuat tekanan dengan menyiagakan kapal induk Abraham Lincoln di wilayah Laut Arab. Langkah ini bertujuan untuk mencegat kapal-kapal komersial yang memiliki tujuan perjalanan menuju wilayah kedaulatan Iran.
Di pihak lawan, juru bicara komisi keamanan nasional Iran Ebrahim Rezaei memberikan peringatan terkait eskalasi kekuatan nuklir mereka. Garda Revolusi Iran sendiri dilaporkan telah memulai latihan militer dalam skala besar untuk mengantisipasi serangan fisik.
"(Kami) siap memperkaya uranium hingga kadar 90% (level senjata nuklir) jika kembali diserang," tegas Ebrahim Rezaei, Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional Iran.
Situasi semakin rumit setelah pihak otoritas Kuwait melaporkan penangkapan empat orang penyusup yang diduga berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran. Sementara itu, di dalam negeri Amerika Serikat, Trump menghadapi tekanan publik terkait kenaikan harga bahan bakar menjelang pemilihan kongres.
Menanggapi keresahan warga Amerika Serikat, Trump menjanjikan kebijakan penangguhan pajak bensin federal untuk menekan angka inflasi. Ia optimistis bahwa harga energi akan segera mengalami penurunan drastis setelah konflik dengan Teheran berhasil diselesaikan sepenuhnya.
"Begitu urusan dengan Iran ini selesai, Anda akan melihat harga bensin dan minyak jatuh seperti batu," janji Trump, Presiden Amerika Serikat.
Konflik terbuka yang meletus sejak 28 Februari 2026 ini awalnya dipicu oleh perselisihan menahun terkait program nuklir Iran. Presiden Trump dijadwalkan akan melanjutkan upaya diplomasi dengan menemui Presiden China Xi Jinping di Beijing pada Rabu (13/5/2026) untuk membahas krisis tersebut.