Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa kesabarannya dalam menghadapi Iran sudah hampir habis di atas pesawat kepresidenan Air Force One pada Sabtu (16/5/2026). Pernyataan tersebut disampaikan setelah ia menyelesaikan kunjungan diplomatik selama dua hari di Beijing, China, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Ketegangan ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak konflik bersenjata pecah pada 28 Februari 2026. Blokade pada jalur nadi energi dunia tersebut menyebabkan pasokan terganggu hingga harga minyak dunia melonjak 3 persen ke level US$ 109 per barel.
Meskipun Trump mengklaim Presiden China Xi Jinping setuju agar Selat Hormuz segera dibuka kembali, pemerintah China tidak memberikan indikasi kuat akan ikut campur lebih dalam. Trump juga bersikap diplomatis ketika ditanya mengenai desakan kepada Xi untuk menekan pihak Iran.
"Saya tidak meminta bantuan khusus (favours). Karena ketika Anda meminta bantuan, Anda harus membalas bantuan tersebut di kemudian hari," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.
Saat ini Pemerintah AS sedang mempertimbangkan keputusan untuk mencabut sanksi terhadap perusahaan minyak China yang membeli minyak dari Iran. Langkah ini krusial mengingat China merupakan pembeli minyak mentah Iran terbesar di dunia.
"Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir, dan kami ingin selat itu dibuka," tegas Trump, Presiden Amerika Serikat.
Di sisi lain, situasi di Timur Tengah ini juga mendatangkan frustrasi bagi pemerintah China. Hubungan yang menegang tersebut dinilai tidak memiliki alasan kuat untuk terus dipertahankan.
"Konflik ini, yang seharusnya tidak pernah terjadi, tidak memiliki alasan untuk terus berlanjut," sebut Kementerian Luar Negeri China.
Pemerintah Iran sendiri bersikeras tidak akan membuka Selat Hormuz sebelum AS menghentikan blokade pelabuhannya. Sebaliknya, Trump mengancam akan meluncurkan serangan militer baru jika Iran tidak tunduk pada kesepakatan damai.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan lebih dari 31 juta milis warga Iran telah mendaftar dalam kampanye kesiapan bela negara. Otoritas Iran mengaku sama sekali tidak mempercayai pihak AS meskipun jalur diplomasi masih diupayakan.
Di tengah kebuntuan tersebut, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon (Hizbullah) telah sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata rapuh mereka selama 45 hari ke depan. Gencatan senjata ini seharusnya berakhir pada Minggu (17/5/2026).
Konflik bersenjata antara AS, Israel, dan Iran ini telah berkembang menjadi krisis geopolitik terbesar tahun ini yang melumpuhkan ekonomi global. Bagi Trump, kebuntuan ini menjadi beban politik yang berat menjelang pemilihan umum legislatif AS pada November mendatang karena memicu inflasi dalam negeri.