Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan instruksi kepada Angkatan Laut AS untuk melakukan pembersihan ranjau laut yang ditebar oleh Iran di kawasan Selat Hormuz. Langkah ini diambil menyusul adanya laporan mengenai pemasangan ranjau sejak agresi AS-Israel dimulai pada akhir Februari 2026.
Sebagaimana dilansir dari Kompas, kebijakan ini bertujuan untuk membuka kembali akses di perairan vital tersebut setelah penutupannya memicu lonjakan harga minyak dunia. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan konfirmasi terkait durasi pengerjaan misi militer ini.
"Kami yakin dengan kemampuan kami, dalam periode waktu yang tepat, kami akan membersihkan setiap ranjau yang teridentifikasi," kata Hegseth, Menteri Pertahanan AS.
Penegasan tersebut disampaikan Hegseth di tengah pengakuannya bahwa operasi teknis di lapangan kemungkinan memerlukan waktu penyelesaian hingga enam bulan ke depan. Meski demikian, pihak Pentagon menyatakan optimisme terhadap kapabilitas personel militer yang dikerahkan.
Sebelumnya, pada Kamis (23/4/2026), Donald Trump juga menegaskan telah memerintahkan pasukannya untuk menindak tegas setiap kapal yang terlihat menyebarkan ranjau di lokasi tersebut. Trump mengumumkan peningkatan intensitas operasi melalui platform media sosial miliknya.
"Sebagai tambahan, pembersih ranjau kami sedang membersihkan Selat (Hormuz). Saya memerintahkan aktivitas ini dilanjutkan, tetapi dengan peningkatan hingga tiga kali lipat!" kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Ketegangan di wilayah tersebut meningkat sejak Iran menutup Selat Hormuz pasca-serangan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari. Setelah gencatan senjata singkat pada 8 April, pihak AS merespons dengan memblokade akses pelabuhan Iran.
Kondisi di lapangan dinilai penuh tantangan mengingat Iran diduga memiliki ribuan ranjau laut yang sudah terpasang. Emma Salisbury, pakar dari Foreign Policy Research Institute AS, menyoroti kompleksitas teknis dalam operasi pembersihan ini.
"Memasang ranjau jauh lebih mudah dari membersihkan ranjau, Anda secara harfiah bisa melakukannya hanya menggunakan perahu cepat," kata Salisbury, Pakar Foreign Policy Research Institute.
Salisbury menambahkan bahwa situasi ini berpotensi menjadi ajang perang urat syaraf yang berkepanjangan antara kedua negara. Ketidakpastian mengenai sisa ranjau yang belum terdeteksi diprediksi akan terus membayangi keamanan kapal-kapal komersial yang melintasi jalur perdagangan internasional tersebut.