Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak membatalkan rencana penandatanganan perintah eksekutif baru mengenai kecerdasan buatan (AI) di Gedung Putih pada Kamis (22/5/2026), beberapa jam sebelum acara resmi dimulai, seperti dilansir dari Money.
Kebijakan yang batal disahkan tersebut awalnya dirancang sebagai bentuk kerja sama sukarela antara pemerintah federal dan korporasi teknologi besar seperti OpenAI, Anthropic, serta Google untuk mengevaluasi risiko keamanan nasional dari sistem AI tercanggih.
Langkah pembatalan ini diambil karena Trump mengkhawatirkan regulasi baru tersebut berpotensi menghambat dominasi dan keunggulan teknologi Amerika Serikat dalam persaingan global.
"Kita memimpin China, kita memimpin semua orang, dan saya tidak ingin melakukan apa pun yang akan menghalangi keunggulan itu," kata Trump kepada wartawan.
Pembatalan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran sektor perbankan dan keamanan digital yang menilai model AI terbaru mampu mendeteksi celah keamanan siber pada sistem perangkat lunak secara lebih masif.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan sempat mengadakan pertemuan darurat dengan para CEO Wall Street dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada April lalu guna membahas risiko siber dari model AI Claude Mythos buatan Anthropic.
"Model Anthropic yang baru ini sangat ampuh," kata Bessent dalam forum CNBC Invest in America di Washington.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah ingin mengumpulkan perwakilan perbankan untuk mendiskusikan praktik terbaik dalam menghadapi perkembangan teknologi ini.
"Beberapa bank melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam keamanan siber daripada yang lain, dan kami ingin memiliki kemampuan untuk mengumpulkan mereka dan membicarakan praktik terbaik dan ke ð║Ðâð┤ð░ mereka harus menuju," lanjut Bessent.
Di sisi lain, situasi internal pemerintahan Trump kini mengalami keretakan dan perpecahan karena adanya benturan antara ambisi mendorong inovasi AI dan keresahan publik terkait dampak buruk digitalisasi.
Profesor Ilmu Komputer Universitas Brown Serena Booth menilai perubahan sikap sepihak dari Gedung Putih menunjukkan adanya tarik menarik kepentingan yang kuat di dalam kabinet.
"Hal itu berpotensi menimbulkan biaya yang sangat besar bagi inovasi dan kecepatan pengembangan," kata Profesor Ilmu Komputer Universitas Brown Serena Booth.
Booth mengonfirmasi bahwa dinamika penundaan ini menjadi bukti nyata adanya gesekan kebijakan regulasi teknologi di tingkat pusat.
"Saya pikir ada risiko nyata di sini dan saya melihat kedua sisi," lanjut Booth.
Kondisi ini diperumit oleh konflik hukum terpisah antara pemerintah dan Anthropic setelah Trump melarang lembaga federal menggunakan chatbot Claude akibat perselisihan Pentagon dengan Dario Amodei.
"Kita memang melihat semacam pertikaian publik," kata Booth.
Ia menambahkan bahwa inkonsistensi jadwal penandatanganan regulasi ini mencerminkan dinamika politik internal yang belum mencapai titik temu.
"'Kita akan mengeluarkan perintah eksekutif. Tidak, kita tidak akan. Kita akan menandatanganinya siang ini. Oh, penandatanganannya dibatalkan.' Saya pikir perubahan mendadak ini terjadi karena kita melihat keretakan-keretakan ini," ujar Booth.
Pemerintah federal sendiri menyatakan tetap berupaya mencari jalan tengah demi melindungi masyarakat tanpa harus mengorbankan kecepatan inovasi teknologi domestik.
"Presiden ingin kita pro-inovasi. Dia ingin kita memenangkan perlombaan AI melawan semua negara lain di dunia," kata Wakil Presiden AS JD Vance.
Vance menegaskan bahwa perlindungan terhadap masyarakat luas tetap menjadi salah satu fokus utama yang dipertimbangkan pemerintah.
"Kami juga ingin memastikan bahwa kami melindungi masyarakat," lanjut Vance.
Saat ini pengawasan model AI masih berjalan di beberapa lembaga setelah Departemen Perdagangan AS sempat mengumumkan kerja sama evaluasi dengan Google, Microsoft, dan xAI, meskipun pengumuman tersebut kini telah dihapus dari situs resminya.