Trump Ancam Kenakan Tarif Impor Tinggi ke Inggris

Trump Ancam Kenakan Tarif Impor Tinggi ke Inggris
Foto: Ilustrasi Trump Ancam Kenakan Tarif Impor Tinggi ke Inggris.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman pengenaan tarif impor tinggi terhadap Inggris sebagai respons atas kebijakan pajak layanan digital yang menyasar perusahaan teknologi asal AS. Ketegangan ini memuncak pada Minggu (26/4/2026) setelah Trump mendesak pencabutan aturan yang telah berlaku sejak 2020 tersebut.

Kebijakan pajak digital di Inggris memungut 2 persen dari pendapatan perusahaan media sosial, mesin pencari, hingga pasar daring yang beroperasi di wilayahnya. Dilansir dari Detik Finance, regulasi ini berdampak langsung pada raksasa teknologi seperti Apple, Meta, dan Alphabet (Google).

Kritik tajam disampaikan oleh Trump saat memberikan keterangan resmi dari Ruang Oval pada Kamis waktu setempat. Ia menilai kebijakan tersebut sengaja dirancang untuk mengambil keuntungan dari perusahaan-perusahaan Amerika Serikat secara sepihak.

"Kami sudah memantau hal itu. Kami bisa membalasnya dengan sangat mudah, hanya mengenakan saja tarif besar untuk Inggris. Jadi, sebaiknya mereka hati-hati," ujar Trump.

Meskipun belum merinci besaran persentase tarif yang akan diberlakukan, Trump memastikan langkah proteksionisme tersebut akan menjadi konsekuensi nyata jika tuntutannya diabaikan. Ia menegaskan posisi Amerika Serikat yang tidak akan tinggal diam terhadap kebijakan pajak tersebut.

"Kalau mereka tidak mencabut pajak itu, kami kemungkinan besar akan mengenakan tarif besar pada Inggris," tambah Trump.

Di sisi lain, Pemerintah Inggris yang saat ini dipimpin Partai Buruh tetap mempertahankan kebijakan tersebut karena fungsinya sebagai sumber pendapatan negara yang signifikan. Berdasarkan catatan fiskal 2024-2025, pajak digital ini telah menyumbang pemasukan hingga £800 juta ke kas negara Inggris.

Persoalan pajak ini sebenarnya sempat dibahas dalam perjanjian dagang antara kedua negara pada Mei tahun lalu tanpa ada perubahan kebijakan. Namun, Trump memberikan indikasi kuat bahwa kesepakatan yang telah ada tersebut sangat mungkin untuk diubah dalam waktu dekat.

Artikel terkait

Rekomendasi