Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan kembali melanjutkan aksi militer terhadap Iran apabila pembicaraan damai pasca-gencatan senjata Operasi Epic Fury tidak membuahkan hasil, di tengah lonjakan harga bensin domestik yang menekan popularitasnya, seperti dilansir dari Internasional pada hari Selasa dan Rabu pekan ini.
Negosiasi yang dimediasi oleh Menteri Dalam Negeri Pakistan di Teheran tersebut dinilai belum menunjukkan kemajuan signifikan setelah enam pekan berjalan. Trump menegaskan pihaknya sudah dalam posisi siap bergerak jika tidak mendapatkan jawaban yang tepat dari pihak Iran.
"Percayalah, jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya bisa bergerak sangat cepat. Kami semua siap bergerak," kata Trump di Joint Base Andrews.
Ketika dimintai keterangan mengenai tenggat waktu yang ia berikan bagi proses diplomasi tersebut, Trump mengindikasikan bahwa keputusan dapat diambil dalam waktu dekat.
"Bisa beberapa hari, tetapi semuanya juga bisa bergerak sangat cepat," ujar Trump.
Trump juga membeberkan bahwa dirinya sempat hampir memerintahkan serangan baru pada hari Selasa setelah menerima permintaan dari beberapa negara Teluk. Kendati demikian, ia menyatakan masih membuka peluang kerja sama internasional demi menghindari konflik berskala besar.
"Kita berada di tahap akhir dengan Iran. Kita lihat saja apa yang terjadi. Entah ada kesepakatan atau kami akan melakukan beberapa hal yang agak buruk, tetapi semoga itu tidak terjadi," ujar Trump.
Pihak Gedung Putih mengonfirmasi adanya komunikasi diplomasi intensif dengan para pemimpin regional lainnya mengenai perpanjangan masa gencatan senjata tersebut.
"Trump juga berbicara dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdo─ƒan yang menyambut perpanjangan gencatan senjata dan menilai solusi yang "masuk akal" masih mungkin dicapai."
Di sisi lain, ketegangan ini berdampak langsung pada situasi Selat Hormuz setelah Teheran meluncurkan Otoritas Selat Teluk Persia untuk mengendalikan lalu lintas energi maritim. Iran bahkan mengajukan proposal baru yang memuat tuntutan lama termasuk pencabutan sanksi dan kompensasi perang.
Merespons gertakan dari Washington, Garda Revolusi Iran mengancam akan memperluas cakupan pertempuran hingga keluar kawasan jika agresi militer kembali terjadi.
"Memaksa Iran menyerah melalui paksaan tidak lebih dari ilusi," tulis Pezeshkian di media sosial X.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuduh Amerika Serikat sedang mempersiapkan serangan baru berdasarkan pergerakan terbuka maupun tersembunyi yang terdeteksi oleh intelijen mereka.
"Iran menjalani negosiasi dengan serius dan itikad baik, tetapi tetap memiliki "kecurigaan kuat dan masuk akal terhadap perilaku Amerika.""
Kondisi geopolitik di jalur pelayaran vital ini memicu kekhawatiran pasar atas pasokan minyak mentah dunia. Berdasarkan data ekonomi yang dihimpun, harga minyak Brent mengalami penurunan sebesar 5,63 persen ke level US$ 105,02 per barel di tengah peningkatan lalu lintas kapal tanker, termasuk dua tanker China yang membawa 4 juta barel minyak keluar dari Selat Hormuz.
| Isu / Faktor | Perkembangan / Dampak |
|---|---|
| Ancaman Trump | AS siap lanjutkan serangan jika Iran menolak damai |
| Tenggat waktu | Trump bersedia menunggu "beberapa hari" |
| Respons Iran | Ancam perang regional lebih luas |
| Selat Hormuz | Iran bentuk otoritas baru pengendali lalu lintas |
| Negosiasi | Pakistan menjadi mediator |
| Tuntutan Iran | Cabut sanksi, buka blokade, cairkan aset |
| Sikap AS | Tetap menolak Iran punya senjata nuklir |
| Ketegangan Hormuz | Risiko gangguan pasokan minyak global |
| Harga Brent | Turun 5,63% ke US$ 105,02 per barel |
| Lalu lintas kapal | Mulai meningkat dibanding pekan sebelumnya |
| Kapal tanker China | Dua tanker membawa 4 juta barel keluar Hormuz |
| Kekhawatiran pasar | Investor pantau peluang tercapainya kesepakatan damai |