Wisatawan mancanegara kini mulai beralih dari objek wisata konvensional ke pengalaman gaya hidup lokal dengan menjadikan salon rambut di Tokyo sebagai destinasi kunjungan utama pada Rabu (22/4/2026). Tren ini didorong oleh reputasi teknik pelurusan rambut Jepang yang berkualitas tinggi dan harga layanan yang semakin terjangkau.
Dilansir dari Detik Travel, data Hot Pepper Beauty Academy pada Februari menunjukkan bahwa 17,3 persen dari 1.535 turis Barat telah mengunjungi salon rambut di Jepang. Selain itu, terdapat 18,5 persen responden lainnya yang menyatakan rencana untuk melakukan perawatan serupa selama masa liburan mereka.
Lily Romero, seorang remaja asal London, mengungkapkan kepuasannya setelah menjalani perawatan rambut selama empat jam di sebuah salon di Tokyo. Keinginan untuk mendapatkan rambut lurus tanpa harus menggunakan alat pemanas setiap hari menjadi alasan utama dirinya mengunjungi salon tersebut.
"Ini persis seperti yang saya inginkan," seru Romero, 16 tahun, yang sedang berlibur selama seminggu ke Jepang dari London bersama orang tuanya seperti dikutip dari Japan Today pada Rabu (22/4/2026).
Romero menjelaskan bahwa layanan spesifik untuk teknik pelurusan rambut ala Jepang sulit ditemukan di kota asalnya. Keterbatasan opsi tersebut membuatnya memanfaatkan momen liburan keluarga untuk mencari ahli penata rambut profesional di Jepang.
"Tidak banyak pilihan untuk meluruskan rambut ala Jepang di London, tempat saya tinggal," ucapnya.
Peneliti Hot Pepper Beauty Academy, Kimiko Tanaka, menilai fenomena ini sebagai pergeseran perilaku wisatawan yang sudah sering berkunjung ke Jepang. Para turis ini tidak lagi hanya mengejar lokasi swafoto, melainkan mencari interaksi yang lebih mendalam layaknya penduduk setempat.
"Wisatawan yang sering berkunjung ke Jepang cenderung melampaui objek wisata standar dan mencari pengalaman yang lebih mendalam dan imersif," kata Kimiko Tanaka, seorang peneliti di Hot Pepper Beauty Academy.
Menurut Tanaka, mendapatkan perawatan kecantikan dengan standar pelayanan warga lokal memberikan kesan unik bagi para pelancong. Strategi pemasaran melalui media sosial juga dianggap krusial dalam memperlihatkan teknik higienis dan keahlian para penata rambut Jepang ke audiens global.
"Mendapatkan layanan yang sama dengan penduduk lokal di salon kecantikan telah menjadi pengalaman lokal yang unik bagi wisatawan mancanegara," jelasnya.
Tanaka menambahkan bahwa promosi teknis di platform digital menjadi kunci untuk menarik minat sebelum turis tiba di Jepang. Kualitas kebersihan lingkungan kerja yang diakui dunia menjadi landasan kuat bagi industri ini.
"Selain fondasi lingkungan higienis yang secara luas dianggap berkelas dunia, membuat keahlian teknis terlihat melalui media sosial dan menjangkau pelanggan potensial sebelum kedatangan mereka kemungkinan akan menjadi kunci untuk menangkap permintaan di masa depan," katanya.
Hiro, pemilik Hiro Hair Design, menyatakan bahwa peningkatan jumlah pelanggan asing mulai terasa signifikan dalam tiga tahun terakhir. Di salonnya yang terletak di wilayah Hiroo, Tokyo, sebanyak 20 persen pelanggannya merupakan wisatawan mancanegara yang datang berkat rekomendasi daring.
Faktor ekonomi seperti melemahnya nilai tukar yen dan standar kualifikasi nasional penata rambut di Jepang menjadi daya tarik tambahan bagi turis. Hiro menyebutkan bahwa klien dari Amerika Serikat sering mengeluhkan tingginya biaya potong rambut di negara asal mereka.
"Pelanggan tetap semakin meningkat, terutama orang Amerika," katanya, alasan mereka karena potong rambut di AS sangat mahal.
Penata rambut lain bernama Teppei juga merasakan dampak serupa dengan komposisi pelanggan asing mencapai 80 hingga 90 persen di tempatnya bekerja. Ia memandang layanan salon bukan sekadar perawatan fisik, melainkan bagian dari industri hiburan yang mengedepankan kepuasan pelanggan.
"Dirawat di salon rambut di Jepang adalah bentuk hiburan. Jika mereka merasa lebih puas daripada yang mereka harapkan, mereka akan datang lagi. Ini tentang apakah Anda bisa membuat mereka menjadi pelanggan tetap," kata Teppei.
Setelah menyelesaikan perawatannya, Romero menyatakan niatnya untuk membagikan pengalaman tersebut kepada rekan-rekannya di London. Ia pun berharap dapat kembali ke Jepang untuk perawatan rutin di masa depan.
"Luar biasa. Aku menyukainya," katanya, sambil bertanya kepada ibunya apakah dia bisa datang lagi untuk perawatan tersebut setelah efeknya hilang.
Merespons permintaan putrinya, sang ibu memberikan jawaban yang menggantung sembari menyatakan kepuasan atas hasil kerja penata rambut tersebut. Mereka mengakhiri kunjungan salon tersebut dengan hasil transformasi rambut yang sesuai harapan.
"Kita lihat saja nanti," kata ibunya, senang dengan hasilnya.