Tim Pengawas Haji Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menyoroti minimnya fasilitas pembimbing ibadah bagi jemaah haji asal Indonesia saat meninjau pemondokan di Makkah, Arab Saudi, pada Jumat (22/5/2026).
Kekurangan fasilitas penunjang tersebut berpotensi mengganggu kekhusyukan serta kelancaran ibadah para jemaah selama berada di Tanah Suci. Penegasan mengenai kondisi tersebut disampaikan oleh Anggota Timwas Haji DPR Nasir Djamil, seperti dilansir dari Detikcom.
Temuan ini diperoleh setelah Nasir melakukan peninjauan langsung ke lokasi akomodasi jemaah asal Aceh yang berada di Hotel 601 dan 602 Sektor 6, Makkah. Keterbatasan jumlah petugas pembimbing di lapangan dinilai berbanding terbalik dengan besarnya jumlah jemaah yang harus dilayani.
"Ini soal pembimbing ibadah, ya. Pembimbing ibadah ini memang masih minim sekali," kata Nasir.
Menurut Nasir, minimnya keberadaan pembimbing haji telah membuat jemaah terpencar-pencar saat mereka melakukan ibadah umrah begitu tiba di Makkah. Alhasil jemaah mengaku tidak bisa fokus dan khusyuk saat menjalankan rukun umrah seperti tawaf dan sai.
"Sebab minimnya pembimbing ibadah membuat mereka tidak khusyuk ya dalam melaksanakan tawaf, sai, ya," kata Nasir.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa jumlah pembimbing yang terbatas harus kewalahan menangani jemaah dalam jumlah besar. Selain kuantitas yang kurang, Timwas Haji DPR juga menemukan adanya petugas pembimbing ibadah yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci sehingga mengalami kebingungan saat bertugas.
"Nah, itu juga sedikit membuat kebingungan begitu, meskipun dia tahu teori dan ya ketika manasik dan lain sebagainya, tapi kan ketika realitas yang dia lihat kan tidak sama dengan teori itu," kata Nasir.
Persoalan ini dipastikan akan menjadi catatan evaluasi resmi bagi Tim Pengawas Haji DPR untuk mendesak perbaikan ke depan. Nasir meminta Kementerian Haji dan Umrah melalui kantor wilayah di daerah memastikan kecukupan jumlah serta kesiapan mental para petugas.
"Nah, karena itu diharapkan pembimbing-pembimbing ibadah ke depan itu ya tidak ada lagi yang tidak pernah ke Tanah Suci," kata Nasir.
Di sisi lain, fasilitas fisik seperti katering dan ketersediaan air di pemondokan jemaah haji Aceh secara umum dinilai sudah layak. Namun, kendala lain muncul terkait akomodasi transportasi akibat jarak pemondokan yang cukup jauh dari Masjidil Haram.
"Jadi bus Shalawat juga yang mereka sampaikan itu juga tidak sepenuhnya bisa meng-handle jemaah itu," kata Nasir.