Tim Peneliti Indonesia Temukan Bakteri Tahan Panas Thermus javaensis di Sukabumi

Tim Peneliti Indonesia Temukan Bakteri Tahan Panas Thermus javaensis di Sukabumi
Foto: Ilustrasi Tim Peneliti Indonesia Temukan Bakteri Tahan Panas Thermus javaensis di Sukabumi.

Tim peneliti Indonesia berhasil menemukan Thermus javaensis, sebuah spesies bakteri tahan panas dari geiser Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat. Mikroorganisme ini dinilai menyimpan potensi besar untuk diaplikasikan pada sektor pangan, kesehatan, lingkungan, hingga kosmetik.

Penelitian mengenai Thermus javaensis tersebut kini telah terbit di jurnal internasional Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology pada 2026, seperti dilansir dari Detik Health.

Ilmuwan mikrobiologi Universitas Indonesia, Prof Dra Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc, PhD yang merupakan salah seorang penelitinya, menjelaskan, Thermus javaensis merupakan bakteri termofilik, yakni bakteri yang mampu hidup pada suhu sangat tinggi.

"Jadi bakteri Thermus javaensis ini adalah bakteri termofilik ya, yang tahan hidup pada suhu yang tinggi. Jadi bakteri ini di tempat namanya di geiser yang suhunya itu mencapai 100 derajat. Dan ini adalah geiser satu-satunya di Indonesia yang memiliki suhu panas itu," ujarnya saat ditemui oleh detikcom, Senin, (25/05/2026).

Eksplorasi di geiser Cisolok dilaporkan telah berjalan cukup lama. Tim ilmuwan mengawali riset sejak sekitar 12 tahun lalu, sedangkan proses isolasi mikroba tersebut baru terlaksana pada 2015.

Kendati demikian, fase penemuan hingga pengembangbiakan mikroba ini di laboratorium menghadapi hambatan besar. Prof Wellyzar menyebutkan bahwa bakteri ini memerlukan lingkungan spesifik karena suhu optimal untuk hidupnya berada di kisaran 65 derajat Celsius.

"Jadi kami mengisolasi bakterinya tahun 2015, kemudian proses, kebetulan isolasinya cukup sulit juga karena bakteri ini suhu optimalnya itu 65 derajat. Jadi membutuhkan inkubator yang bisa pada suhu yang tinggi," ujarnya.

Kendala lain yang dihadapi ilmuwan berkaitan dengan media pembiakan. Karakteristik media agar standar yang mudah meleleh pada temperatur tinggi memaksa tim menggunakan medium khusus.

"Dan kesulitannya adalah pada suhu sekian, 65 derajat itu medium agar biasanya meleleh. Karena itu kami membutuhkan medium khusus untuk menemukan bakteri ini agar bisa hidup di dalam laboratorium pada suhu 65 derajat," lanjutnya.

Kelebihan utama Thermus javaensis terletak pada ketahanan enzim yang diproduksinya. Enzim tersebut terbukti tetap stabil meski dioperasikan dalam kondisi suhu ekstrem, seperti kelompok enzim karbohidrase yang bernilai tinggi bagi sektor industri.

"Jadi seperti enzim-enzim karbohidrase yang sangat tertinggi di industri, itu bisa dihasilkan oleh bakteri ini," katanya.

Karbohidrase merupakan kelompok enzim yang lazim dipakai pada industri fermentasi dan makanan. Kemampuan utamanya adalah mengurai karbohidrat kompleks menjadi bentuk senyawa yang lebih sederhana.

Karakteristik tersebut membuat peluang pemanfaatan bakteri ini menjadi sangat luas, mencakup bidang kesehatan, pangan, industri, serta pengelolaan lingkungan.

"Industri pangan, kesehatan, atau industri dan lingkungan, iya," ujar Prof Wellyzar.

Spesies dari kelompok Thermus di luar negeri juga telah diaplikasikan untuk produk kecantikan, khususnya sebagai formula anti-penuaan dini.

"Kemudian kalau di luar negeri, spesies dari Thermus itu digunakan untuk anti-aging, dan dia juga bisa, karena bakterinya bisa panas, dia juga bisa mem-boosting kolagen dalam kulit," katanya.

Potensi tersebut membuka peluang besar bagi pemanfaatan Thermus javaensis dalam industri kosmetik nasional pada masa mendatang.

"Jadi ini ke depannya bisa juga dimanfaatkan dari sisi industri kosmetik juga," lanjutnya.

Selain itu, bakteri ini mampu memproduksi variasi enzim lain yang berfungsi mengurai material polimer yang biasanya sulit didegradasi.

"Enzimnya itu, dia bisa menghasilkan berbagai macam enzim, seperti amilase, kitinase, silahase, enzim-enzim yang memang didegradasi, berbagai macam polimer, yang selama ini sulit didegradasi," ujarnya.

Ketahanan pada suhu tinggi memicu enzim dari mikroba ini tetap stabil walaupun dioperasikan dalam lingkungan yang ekstrem.

Prof Wellyzar mencontohkan bahwa aplikasi teknologi PCR yang masif di dunia sains saat ini juga memanfaatkan komponen enzim dari kelompok bakteri Thermus.

"Jadi mungkin kita ingat, kita tahu ya, bahwa enzim Taq DNA polymerase yang digunakan untuk PCR, itu berasal dari Thermus. Dan Thermus itu Thermus aquaticus yang diisolasi di Yellowstone Hot Springs di Amerika," jelasnya.

Namun, proses untuk membuktikan sebuah mikroba sebagai spesies baru memerlukan tahapan karakterisasi yang memakan waktu panjang.

"Di Indonesia sebenarnya Thermus itu banyak, hanya mungkin yang bisa mengkarakterisasi dan membuktikan itu adalah spesies baru, itu yang jarang ya, karena spesies baru kita membutuhkan karakterisasi sifat biologi, fisiologi, biokimia, kemudian mengungkap karakter genetiknya, mengungkap genomnya, itu butuh waktu," ujarnya.

Tim ilmuwan setidaknya menghabiskan waktu sekitar dua tahun hanya demi menghimpun data riset. Walau prosesnya rumit, penemuan Thermus javaensis dinilai membuka lembaran baru bagi riset dan industri berbasis mikroorganisme ekstrem di Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi