Pemerintah Thailand resmi menghidupkan kembali proyek ambisius Land Bridge senilai 1 triliun Baht atau sekitar Rp480 triliun untuk menjadi rute alternatif logistik global pada Selasa (28/4/2026). Infrastruktur ini dirancang guna memangkas jalur pelayaran yang selama ini bergantung pada Selat Malaka.
Dilansir dari Suara, pembangunan ini bertujuan menghubungkan dua pelabuhan laut dalam, yakni Ranong di sisi Laut Andaman dan Chumphon di Teluk Thailand. Jalur sepanjang 90 kilometer tersebut akan dilengkapi rel kereta api dan pipa energi untuk mempercepat distribusi barang antara Asia Timur dan Eropa.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, melakukan kunjungan diplomatik menemui Menteri Pertahanan Singapura, Chan Chun Sing, pada Senin guna membahas peluang investasi. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran atas keamanan jalur pelayaran dunia akibat ketegangan di Selat Hormuz.
Juru bicara pemerintah, Rachada Dhanadirek, mengeklaim pihak Singapura memberikan respons positif terkait tawaran kerja sama pada proyek strategis tersebut. Land Bridge dianggap lebih masuk akal secara teknis dibandingkan rencana pembangunan Terusan Kra yang sebelumnya memicu kekhawatiran dampak lingkungan.
"pihak Singapura menyatakan ketertarikannya terhadap rencana tersebut." kata Rachada Dhanadirek, Juru bicara pemerintah.
Penetapan draf proyek ini dijadwalkan masuk ke kabinet pada Juni atau Juli mendatang untuk mendapatkan persetujuan resmi. Jika seluruh tahapan administratif berjalan sesuai rencana, proses pencarian investor utama akan segera dimulai pada kuartal ketiga tahun ini.